Senin, 07 Desember 2015

Sejarah kebebasan berpendapat

Kebebasan berpendapat, merupakan hasil dari sekian panjang perjuangan manusia dalam upayanya untuk lepas dari belenggu perbudakan.  Bisa dikatakan bahwa kebebasan berpendapat beriringan dari ide Socrates dalam menyemaikan bibit demokrasi dalam sistem sosial Yunani ribuan tahun yang lalu, yang, karena "ulahnya" yang sangat suka menggosip itu, Socrates membayar harga sebuah kebebasan berpendapat, dengan nyawanya sendiri.
Tidak dipungkiri, pendapat bahwa demokrasi baru benar tegak di Yunani justru setelah eksekusi Socrates itu sendiri, memicu revolusi mental orang-orang untuk berani mengemukakan pikirannya yang selama ini dikekang oleh rezim saat itu, yang membuat orang-orang sadar betapa pemikiran untuk kebebasan adalah hal yang harus diperjuangkan, berapapun harganya.
Dengan itu resmilah Socrates menjadi martir layaknya Yesus yang mengorbankan tubuhnya untuk disalib demi membebaskan pikiran orang dari kegelapan akhlaq, seperti nabi Muhammad yang rela diusir dari sukunya sendiri keluar Makkah untuk memperjuangkan pendapat bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup layak dan lepas dari kesenjangan sosial, menghapus kejahilan warisan budaya yang angkuh di tengah kondisi yang tidak tepat.

Kebebasan berpendapat memiliki harga yang harus dibayar, tentu, sebab pendapat adalah hasil dari olah pemikiran, yang mana pemikiran itu sendiri pastilah menemukan perlawanannya akibat benturan kepentingan yang berseberangan.  Kebebasan berpendapat tidak sama dengan kebebasan berbunyi, sebab pendapat ada di dalamnya yaitu kepentingan, konsep dan tanggung jawab. 
Pendapat lahir dari sebuah kepentingan, baik itu individual, kolektif atau global.  Sebab kepentingan itu yang memotivasi orang untuk merealisasikan pikirannya ke dalam alam yang sama sekali berbeda.  Kepentingan menimbulkan keinginan dan usaha yang diracik untuk bisa dimengerti ke dalam sebuah konsep, konsep ini yang merupakan cikal bakal berkembangnya sebuah gerakan nyata.
Perbedaan anarki dan pendapat terletak pada tanggung jawabnya terhadap elemen sosial yang terjangkau oleh konsep itu.  Tanggung jawab memberi batas yang tegas bagi suatu konsep apakah pemikiran ini layak diperjuangkan atau hanya sekedar bunyi berisik yang tidak memiliki nilai untuk disebut pendapat.

Perbedaan pemikiran yang didasarkan pada kepentingan, memicu suatu usaha untuk membungkam entitas yang berbeda dari bentuknya sendiri demi mempertahankan supremasinya sebagai entitas "yang utama", yang dianggap paling penting bagi pihak yang memiliki pemikiran tersebut.  Hal ini, dalam masa-masa kegelapan yang terjadi adalah terbentuknya kekuasaan yang cenderung membungkam bahkan membunuh pendapat yang berbeda dari pendapat yang memiliki kekuasaan, kekuasaan yang didasari atas ketakutan atau pendapat mayoritas.  Alasan paling utama dari pengekangan pendapat ini adalah masalah stabilitas sosial, dan sayangnya, alasan ini paling masuk akal meski melanggar hak dasar manusia untuk memiliki pendapat dan mengemukakannya.

Adalah fakta bahwa pencapaian tertinggi suatu peradaban justru diraih di bawah sistem sosial yang diktatis, Mesir, Yunani, Romawi, Tiongkok, memiliki sejarah gemilangnya di masa kekuasaan yang bersifat absolut-tunggal.  Apa pasal?, karena dalam membangun sebuah peradaban yang utuh dan sesuai dengan visi, kekuasaan meminimalisir hal-hal yang bertentangan dengan dirinya untuk memusatkan konsentrasinya.  Kita lihat jaman presiden Soeharto, berapa banyak orang tua kita merindukan zaman dimana sedang gampangnya memenuhi kebutuhan ekonomi dan pembangunan kelihatan dimana-mana.  Tentu, tak bisa dibilang sedikit orang yang trauma hidup di zaman orde baru dimana pikiran yang bertentangan dengan kekuasaan berarti harus disingkirkan.

Kita berbicara tentang kepentingan individual, kolektif dan global.  Kepentingan yang manakah yang harus didahulukan?, secara teori kita sepakat bahwa kepentingan global mestilah di atas segala-galanya.  Sayangnya, kepentingan global hanyalah kamuflase untuk mencapai titik aman dalam merencanakan kepentingan kolektif yang biasanya bersumber dari kepentingan individu.  Siklus ini nanti mengalami antitesa sehingga membentuk lingkaran siklus yang utuh dan berputar tanpa titik awal maupun akhir.

Jika anda suka menonton film Naruto, misalnya, kita bisa melihat berbagai konflik kepentingan disini yang membentuk rantai karma.  Pada awalnya perang antar klan membuat Hashirama Senju dan Madara Uchiha kecil menyadari bahwa penting untuk membuat suatu dunia dimana anak-anak bisa melewati masanya tanpa ikut menjadi korban perang.  Itu kepentingan global.  Namun belakangan perang merenggut nyawa anggota klan yang merupakan saudara kandung mereka, membuat Uchiha Madara harus berhadapan dengan klan Senju, Hashirama sangat terpukul melihat sahabatnya itu lupa terhadap kepentingan globalnya dan mempersempit kepentingannya menjadi kolektif, terbatas pada dendam klannya.
Cerita bergulir dimana kedua klan ini menjadi klan paling kuat dari semua klan yang ada, namun Madara yang dimakan oleh dendamnya sendiri justru jatuh terperosok kedalam kepentingan individual dimana tujuannya berubah menjadi orang yang lebih kuat dari Hashirama, sahabat kecilnya. Madara mengambil mata saudaranya sendiri untuk mewujudkan kepentingannya.  Namun apa daya, Hashirama yang teguh dalam usahanya untuk mewujudkan kepentingan global itu tidak bisa ditundukkan oleh Madara, dan menyadari kepentingan kolektifnya, klan Uchiha bergabung dengan klan Senju lalu membangun desa yang mewujudkan cita-cita kedua orang itu di masa kecilnya.

Namun, kebebasan berpendapat adalah hal yang benar-benar mahal harganya.  Suatu ketika klan Uchiha yang mengeluh karena merasa diperlakukan tidak adil dengan menempatkan mereka pada pengawasan yang ketat dan diberi posisi yang mengekang hak mereka untuk sama rata dengan klan yang lainnya, klan ini merencanakan pemberontakan.  Namun sebelum itu terjadi, kekuasaan desa membersihkan hampir seluruh anggota klan kecuali satu orang anak dari klan Uchiha yang dibiarkan hidup.  Pembersihan dilakukan dengan alasan stabilitas sosial.

Tentu saja kepentingan yang mendasari alasan "stabilitas sosial" hanyalah bentuk dari hegemoni kekuasaan dengan kepentingan kolektif bermodel mayoritas yang menciderai hak asasi manusia.  Ini juga bisa kita lihat dari agresi militer Indonesia ke Timor Timur jaman dahulu itu, dan mungkin sedang terjadi di Papua Barat.

Selama kepentingan itu bergulir, selama itu pula kita berkutat dengan soal kebebasan berpendapat.  Pendapat bisa saja berbenturan, namun kualitas pendapat tergantung pada sejauh mana kepentingan itu berdampak.  Kita bisa melihat betapa susahnya orang-orang penegak HAM di zaman dahulu untuk memperjuangkan aspirasi agar menyeruak dan tampil di muka publik sebagai bagian dari sudut pandang yang memperkaya kualitas kemanusiaan.

Kebebasan berpendapat berperan penting bagi perkembangan khazanah kejiwaan sosial menuju arah dunia humanis yang utuh dan cerdas.  Adalah Nelson Mandela yang merupakan bagian dari sejarah kebebasan berpendapat di Afrika, sebagai antitesa dari produk budaya Apartheid yang digaungkan kekuasaan demi kepentingan kolektif orang kulit putih.  Menyadarkan seluruh manusia bahwa siapapun berhak memiliki kehidupan yang setara tanpa dibatasi oleh ras.

Kebebasan berpendapat tidak lahir dari keadaan yang baik-baik saja, justru saat nilai-nilai dasar alamiah mengalami ketidakseimbangan, saat kemanusiaan sudah mulai rapuh, kebebasan berpendapat tumbuh untuk menyeimbangkan kondisi dan membawa sistem sosial ke arah kodrati, memberikan wawasan yang dimaksudkan untuk menjaga eksistensi manusia dari kepunahan.

Sejarah kebebasan berpendapat berkaitan erat dengan kepentingan, sehingga mulai darimana kepentingan itu beranjak, sampai dimana kepentingan itu menemukan titik jenuhnya, kebebasan berpendapat adalah konflik harmoni yang harus hadir demi tolak ukur kualitas alam.

Minggu, 10 Agustus 2014

30 Minutes in Gaza

Sesaat aku terdiam di bawah tetesan air hujan yang memukul-mukul rambut dan tubuhku seperti ribuan kerikil yang jatuh dari langt.  Di kejauhan masih terdengar rentetan ledakan senjata api yang memekakkan telinga, ditembakan ke segala arah oleh pasukan pelindung para pengungsi, yang, sebagian dari mereka adalah anggota Hamas yang dikirim dari sebelah selatan Gaza untuk mengevakuasi siapa saja yang selamat di antara puing-puing kota yang hampir rata dengan tanah semenjak pesawat Israel menghadiahi distrik Rimal dari langit dengan ratusan pound bahan peledak  di setiap persimpangan jalan kota.
Tidak ada kesempatan untuk selamat bagi sebagian besar orang di dalam kota, tidak ada peringatan, tidak ada tanda-tanda akan adanya penyerangan sebelumnya. 
Aku teringat dengan cara kakekku di Indonesia untuk memusnahkan segerombolan tikus yang ada di pematang sawah menggunakan asap belerang, beruntung, fikirku, Israel tadi tidak menggunakan bom belerang.
Seminggu yang lalu, di distrik ini dihuni oleh  kurang lebih 2500 orang, sekitar 30an orang di antaranya adalah anggota Hamas yang ditempatkan untuk berjaga-jaga atas serangan ke Gaza dari arah timur.  3 hari yang lalu, seorang mata-mata ditangkap setelah kedapatan menghubungi petinggi mossad di Tel Aviv, setiap orang di Rimal tahu kejadian itu, tapi tidak satupun orang Hamas menerangkan atas kejadian hari ini, 30 menit yang lalu.
Orang-orang hanya melihat konvoi mobil Hamas menuju ke luar distrik tadi pagi, orang-orang mengira kepergian mereka berarti bahwa daerah ini telah aman dari serangan membabi buta dari Israel yang dilancarkan ke Gaza seperti kembang api tahun baru di Jakarta awal tahun lalu, begitu meriah, darah dan kepala serta potongan-potongan tubuh berserakan di dinding yang hancur, di jalan raya, di bawah lampu jalan, dimana-mana.

Sekarang begitu sunyi, bukan sunyi dari suara, bukan.  Melainkan sunyi dari kehidupan seperti saat 30 menit yang lalu.  Aku masih dalam perjalanan pulang ke rumah Roni, seorang kenalan orang lokal berdarah Indonesia yang meminjamkan kamarnya untuk kutinggali sementara waktu sampai aku selesai meliput keadaan di Gaza, sudah hampir 3 tahun aku hidup di negeri asing dan kacau ini, di tengah bisingnya suara perang dan hiruk pikuknya kematian yang memenuhi angkasa, dan bagaimana pula dunia tidak mengetahui hal ini?, bagaimanakah dunia bisa buta sementara para reporter disini mati satu orang setiap 3 hari di tengah liputan perang yang gila nan fantastis ini?.

Distrik Rimal adalah daerah teraman sepanjang jalur Gaza dan karena sebelumnya daerah ini dihuni oleh para diplomat asing dari berbagai negara serta jurnalis dari berbagai media.  Pengungsi dari jalur Gaza yang menyebar ke utara menjadikan tempat ini sebagai persinggahan sementara.  Disini masih ada toko serba ada yang masih mendapatkan suplai barang dari luar perbatasan, milik keluarga yahudi yang terkenal dermawan di distrik Rimal ini.  5 menit sebelum penyerangan, toko itu masih dibuka, pemiliknya pernah mengatakan bahwa selama masih ada seorang saja yahudi yang tinggal dalam sebuah kota, maka Israel tidak akan pernah menyerang tempat itu.  Saat ini, aku bisa melihat dari kejauhan, toko itu berubah menjadi puing-puing berasap yang hampir tidak bisa dikenali lagi bentuk asalnya.

Aku melihat seekor anjing di bawah tiang lampu jalan yang menggeletak kelelahan dan kelaparan, 100 meter dari rumah Roni.  Di Gaza, makan 3 kali sehari hanya bisa dilakukan oleh para petinggi pemerintahan dan militer, serta orang-orang Hamas.  Maka dari itu sebagian laki-laki dewasa menjadi anggota relawan Hamas untuk mengirimkan seluruh jatah ransum makan siangnya untuk adiknya, kakaknya, ibunya atau ayahnya.  Setelah terjadi ketegangan antara Israel dan Palestina, otomatis aktifitas ekonomi di jalur Gaza menjadi hancur lebur.  Selama ini sebagian rakyat di Gaza mengandalkan bantuan dari luar perbatasan untuk mencukupi hidupnya, di Rimal, orang yang mempunyai uang hanya para pencari berita dan kru nya, serta orang-orang Hamas.

Aku akhirnya menghampiri anjing itu dan membuka bungkusan dari ransel yang membebani punggungku.  Lalu kuambil roti kering dan membasahinya dengan ludahku yang sedikit, aku bersyukur bahwa ternyata anjing itu suka sekali dengan roti itu.  Kuperiksa bulunya, seekor anjing siberian yang manis dengan warna hitam dominan diselingi warna putih, tapi aku baru menyadari bahwa salah satu kaki belakangnya buntung sebatas tungkai dan kulihat lukanya baru mulai mengering.  Aku memutuskan untuk membawanya pergi dari tempat itu dan akan kurawat di rumah, jika dibiarkan saja, bisa jadi akan dibunuh dan dijadikan makanan.  Semua hewan di daerah ini yang berdaging, termasuk kucing, sudah hampir tidak pernah kulihat berkeliaran.  Pernah suatu ketika aku melihat anak-anak memanggang daging anak kucing yang sudah dikuliti kemudian mereka makan.

50 meter dari tempat tujuan, aku merasa perlu untuk mempercepat langkahku, sebab rintik hujan mulai turun.  Ketika itu, aku melewati sebuah bangunan beton bekas gudang penyimpanan makanan kaleng buatan lokal, aku mendengar sayup-sayup suara seperti pita kaset yang diikat kencang di atas layangan.  Itu suara pesawat terbang.  Suara itu datang dari timur, sesaat kemudian ledakan pertama terdengar dari pinggiran distrik, ledakan itu menghancurkan 3 buah bangunan sekolah dan sebuah sinagog kecil yang tidak terpakai.  Ledakan pertama adalah sebuah kejutan yang menghipnotis orang-orang untuk berhenti beraktifitas dan meyakinkan hati kami bahwa distrik teraman di jalur Gaza ini memang benar telah diserang ataukah hanya mimpi saja. 

Disusul ledakan kedua, dijatuhkan dari sebuah pesawat tempur jenis F-15 warna abu-abu dengan lambang bintang segi enam berwarna biru di bawah sayap sebelah kiri.  Ledakan kedua menghancurkan toko milik orang yahudi, dan orang-orang di dalamnya, barber shop di seberang toko itu, dan rumah nenek Fatima, seorang janda tua yang ditinggal mati oleh kedua anak laki-lakinya dalam sebuah pertempuran di perbatasan.  Aku berdoa di dalam hati agar si nenek mendapatkan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan.  Ledakan kedua adalah pemicu kepanikan seluruh penduduk distrik, dan itu memberi tahu kami bahwa masa gencatan senjata telah berakhir. "Seluruh penduduk harap jangan panik, jangan keluar dari rumah, tetap bersembunyi di dalam rumah masing-masing", suara dari pengeras suara masjid besar di tengah distrik bergema berulang-ulang.  Banyak orang mengunci diri di dalam rumah dan bagi yang masih berada di jalan bersembunyi ala kadarnya, di balik tong sampah, di pinggir tembok bangunan, dan masuk ke dalam bangunan tua.

Aku sendiri merapat ke tembok beton gudang ini dan memeluk anjing buntung yang tampak kebingungan di tengah situasi yang kacau ini.  Aku hanya melindungi kepalaku dan anjing ini dengan tas ransel, sambil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya terhadap kejadian yang tengah berlangsung sementara hujan semakin deras.  Aku melihat Roni melambaikan tangan dari lantai dua, entah dia melambai ataukah menyuruhku untuk tetap bertahan disini.

Bayangan pesawat muncul lagi di atas kepalaku, rudal dijatuhkan tepat di bangunan belakang rumah Roni.  Ledakan ketiga menghancurkan sepertiga blok bangunan di depanku, menghancurkan rumah Roni dan pemiliknya, ratusan ton partikel material bangunan dan serpihan daging serta darah berhamburan ke udara bercampur api.  Aku melihat bagaimana ketika rudal jatuh, dan ledakan itu memberikan tekanan dahsyat bagi objek didekatnya, seperti balon yang pecah karena tekanan angin.  Bangunan dari semen dan bata yang berhamburan, tubuh Roni yang terbakar dan hancur menjadi serpihan-serpihan.   Dan ribuan partikel yang berhamburan itu sebagian menyerbu sekelilingnya, aku pun tidak luput dari serbuan itu, seluruh tubuhku seperti dilubangi oleh besi tumpul yang panas, tapi aku tidak memikirkan itu, saat itu aku berpikir, akan seperti apa kah anjing yang kupeluk ini. 

Ledakan keempat menghancurkan masjid di pusat distrik, disusul oleh ledakan-ledakan lainnya.  Aku beruntung bahwa tembok yang ku sandari ini tidak hancur seperti di sekelilingnya, aku beruntung bahwa ransel yang kubawa ini melindungiku dan anjing ini dari serpihan-serpihan bom dan sempalan material bangunan.  Penyerangan itu hanya berlangsung selama 3 menit, tapi seluruh distrik rata dengan tanah.  Tidak ada puing bangunan yang tingginya lebih dari 2 meter .  Suasana pasca penyerangan benar-benar mengingatkan aku pada foto-foto kota besar dunia yang hancur saat perang dunia pertama.  Aku melihat di sekeliling hanya asap dan puing yang berserakan.  Ada pula sebatang besi sebesar lengan yang menancap di tembok kira-kira 3 meter saja dari tempatku bersandar.

Kakiku lemas dan tubuh terasa sakit, aku mendengar suara sirine dari kejauhan.  Tidak ada seorangpun yang selamat dalam radius 2 blok dari tempatku berlindung.  Aku merogoh ransel untuk mencari telepon satelit, menghubungi bantuan dari kedubes.  Di dalam telepon kujelaskan semua rincian kejadian, setelah itu aku melanjutkan perjalanan ke barat, mencari bantuan terdekat dan survivor jika ada, dengan anjing siberia di gendonganku.

Tidak ada luka serius di sekujur tubuhku, tapi di sepanjang jalan aku melihat banyak sekali potongan tubuh manusia dan orang-orang sekarat, semuanya dari yang tua hingga bayi.  Lebaran idul fitri kemarin saja aku harus berada di antara puluhan mayat anak-anak, benar-benar luar biasa negara ini. 

Aku berjalan hingga 4 blok ke arah barat laut, menuju stadion utama Palestina yang dibombardir Israel tahun 2006 lalu.  Di tengah jalan aku berpapasan dengan rombongan relawan, dan tim evakuasi yang menuju ke distrik Rimal.  Di belakangnya kemudian ada konvoi militer, sebagian adalah rombongan Hamas dengan persenjataan lengkap, buat apa?.

Sejenak aku berteduh di bawah puing tembok yang membentuk atap kecil, hujan masih belum reda juga.  Di daerah ini aku melihat lebih banyak yang selamat, tapi kulihat luka-lukanya cukup parah.  Seseorang di jalan memberitahu diriku bahwa pasukan infantri Israel mulai melakukan penyerangan susulan dari arah utara.  Dan tidak lama kemudian dari jauh terdengar suara pertempuran.  Semua orang segera dievakuasi ke tempat yang aman, aku kembali ke tengah hujan, si anjing kuletakkan di bawah puing tadi.  Aku memandang ke arah pusat distrik, semuanya benar-benar menakjubkan, seperti sulap saja yang mampu membuat pemukiman menjadi kuburan massal.  Hanya tampak hamparan gedung dan bangunan yang hancur, asap membumbung tinggi di beberapa tempat.  Lama aku berdiri di tengah hujan ini, sekarang keadaan menjadi aneh, kehidupan telah diambil dari tempat ini dengan cara yang luar biasa, suara rintik hujan yang mulai mereda dan diselingi suara-suara pertempuran di kejauhan membuat semuanya tampak masuk akal.

Aku mendapatkan kembali kesadaran yang meninggalkanku beberapa saat yang lalu, sebuah pencerahan tentang kejadian ini semua merobek selaput yang menutupi kepekaanku selama ini.  Awan mulai menghilang, hujan berhenti, peperangan nun jauh disana masih berlangsung, namun di langit sebelah barat kulihat ada pelangi.

Kamis, 23 Januari 2014

PIKIRAN : Kenapa kita harus waspada

PIKIRAN adalah sarana hidup paling banyak digunakan oleh manusia.  Segala macam pergerakan kehidupan manusia secara mutlak melibatkan pikiran dalam usahanya membentuk produk-produk hidup(life's product) guna menunjang kebutuhan manusia itu sendiri.

Dalam prakteknya, pikiran digunakan untuk memproses berbagai informasi sebagai bahan untuk menentukan tindakan-tindakan yang akhirnya mempengaruhi setiap bentuk tatanan kebutuhan, mulai dari usaha untuk berkembang biak, kebutuhan makan, melindungi diri sampai kepada proses-proses rumit yang bersifat sosial maupun  individual.  Selain itu pula pikiran digunakan untuk menyimpan data-data atau pengalamannya di masa saat ini sehingga akan digunakan kembali di masa mendatang.

Pikiran mendatangkan kemajuan bagi umat manusia.  Setiap informasi yang berupa pengalaman itu akan diolah kembali sebagai pijakan keputusan di masa depan, dengan pertimbangan-pertimbangan yang disesuaikan dengan untung-rugi bagi si manusia.  Kemudian, muncullah istilah buruk dan baik yang merupakan hasil dari pertimbangan-pertimbangan itu tadi berdasarkan hukum untung-rugi yang telah diolah.

Berbagai produk pikiran yang sudah ada akan kembali dipelajari, sesuai dengan pengaruhnya di berbagai kondisi, keadaan, tempat dan waktu dimana produk pikiran itu diciptakan oleh manusia, kemudian digubah menjadi konsep-konsep, barang dan pemenuhan kebutuhan manusia sebagai alat untuk mempertahankan hidup secara ideologis maupun material.  Maka dari itu terciptalah berbagai aliran pemikiran, berbagai perkakas penunjang hidup, serta agama-agama yang tentu saja sedikit banyaknya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang menyertai kelahirannya.

Namun dibalik segala macam kemajuan yang ditimbulkan oleh pikiran itu, ada banyak hal pula yang patut diperhatikan tentang si Pikiran ini.  Manusia bagaimana pun adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari segala keadaan yang mempengaruhi pikiran, sedangkan segala tindak tanduk kita sudah terbiasa diatur pikiran, pikiranlah yang mengatur pergerakan manusia dengan cara mengkalkulasikan informasi  tentang keadaan-keadaan dan mengkomparasikan hal tersebut dengan keputusan-keputusan yang berdasarkan untung rugi.

Demikianlah sehingga tercipta istilah SUKA dan DUKA, dimana suka adalah keadaan yang menyenangkan, menguntungkan dan duka adalah keadaan yang merugikan.  Menyenangkan siapa?, merugikan siapa?.  Tentulah menyenangkan dan merugikan si AKU. 

AKU adalah sisi manusia yang telah ada dari lahir, sumber dari segala keinginan dan kebutuhan yang tiada batas.  Yang pada perkembangannya ini AKU menjadi tuan dalam segala sendi kehidupan suatu individu.  Pada teori psikoanalisis dari Sigmun Freud, AKU ini disebut dengan ID, sedangkan sisi yang mengenal baik dan buruk yang timbul dari produk pikiran ini disebut dengan EGO.

Ego adalah komponen penasihat AKU yang memenuhi kebutuhan AKU dengan mencapainya sesuai dengan realitas, menurut pada pengetahuannya tentang baik dan buruk.  AKU adalah sosok yang selalu mencari kesenangan dan menghindarkan daripada kesusahan, sehingga Ego ini melalui pikiran selalu mengalami konflik antara pemenuhan kebutuhan dan realitas berdasarkan untung rugi serta norma-norma yang telah diketahui sebagai informasi sebelumnya yang membentuk SUPER EGO.

Super ego merupakan kumpulan pengetahuan akan norma-norma, sebuah dinding yang memperingatkan ego akan batasan-batasan keinginan atau hasrat dari si AKU atau ID ini tadi.  Ego yang mengetahui baik dan buruk dari norma-norma ini akan menyelaraskan keinginan si AKU dan super ego. 

Pada dasarnya, ketiga entitas itu bermain di dalam pikiran kita, menimbulkan berbagai konflik yang terjadi akibat keinginan-keinginan yang berusaha untuk dipuaskan.  Apabila tidak berhasil mencapai kesenangan, maka si AKU akan merasa kecewa, sedangkan apabila sudah mencapai kesenangan, si AKU akan bosan dan terus meminta kesenangan yang lainnya.

Suka dan duka bukan lain adalah permainan pikiran kita sendiri.  AKU yang pada dasarnya mencari kesenangan itu akan terus mendesak ego untuk mencari cara supaya mendapatkan kesenangan, si AKU ingin kekayaan, pangkat, kemuliaan, nama besar, ingin terlihat baik dan lain sebagainya sehingga bahkan sering kali dilakukan dengan cara-cara yang amat tidak baik.  Pengejaran kesenangan untuk memuaskan AKU itu kadang diperhalus dengan istilah cita-cita, kesuksesan,cinta dan lain sebagainya.  Padahal pada hakikatnya si AKU ini hanya  menginginkan pamrih yaitu menyenangkan diri sendiri.

Yang lebih mengerikan adalah bahwa kita masih belum sadar bahwa diri sendiri sudah dikuasai oleh hawa dari si AKU ini pada setiap sendi kehidupan.  Kita selalu menjadi manusia munafik yang sering menolak dikatakan sebagai manusia yang egois, padahal setiap waktu kita sebenarnya selalu mementingkan diri sendiri.

Bagaimana tidak?, coba saja pertanyakan kepada diri kita sendiri, dengan dasar apakah kita beribadah kepada Tuhan?.  Banyak orang mungkin menjawab itu adalah suatu perintah-NYA yang wajib dilaksanakan, lalu jika tidak dilaksanakan bagaimana?, tentu orang-orang takut akan dimurkai-NYA, hal yang menyebabkan kerugian bagi diri kita, bagi si AKU.  Atau jika kita rajin beribadah dan memupuk pahala maka akan dijanjikan kehidupan yang mulia dan masuk sorga, apakah tujuannya?, lagi-lagi adalah kesenangan si AKU. 

 Atau kita bisa mempertanyakan kesederhanaan diri sendiri, untuk apakah kita bersikap sederhana, hidup secara sederhana dan berlaku secara sederhana jika itu kita lakukan untuk mengejar pamrih?, pamrih apakah?, ada hal paling menggelikan bagi orang yang terlalu menonjolkan kesederhanaannya. yaitu bahwa kesederhanaan yang ditonjolkan sesungguhnya adalah kesombongan yang nyata, sombong karena hendak memamerkan, menunjukan kepada orang lain bahwa kita adalah orang yang sederhana!.  Semuanya mengandung pamrih, padahal ilmu paling utama adalah ilmu Ikhlas!.  Maka benarlah apabila dikatakan oleh para filsuf dan agamawan yang bijak bahwa ilmu ikhlas itu adalah berat sekali.

Si AKU inilah yang menghalangi orang untuk mengenal Tuhan karena didalam hatinya masih terdapat pementingan diri sendiri.  Terdapat kemunafikan-kemunafikan yang sungguh tanpa kita waspadai selalu menggerogoti jiwa kita.  Kita berTuhan dengan dasar pamrih, kita berbuat baik dengan dasar pamrih, mencintai pun dengan perhitungan untung rugi bagi si AKU.  Maka menjadi sesatlah diri ini karena permainan pikiran yang tidak kita waspadai.

Lalu bagaimana agar permainan pikiran ini tidak melemparkan kita pada golongan manusia-manusia bertopeng yang sia-sia hidupnya?, bukan lain adalah melepaskan diri daripada sifat pamrih.  Tentu saja ini adalah hal paling sulit, mengalahkan si AKU yang penuh pamrih ini tidaklah mudah.  Karena kita tidak mampu melepaskan diri seutuhnya dari keterlibatan AKU yang menjadi sumber keinginan dan kebutuhan yang diperlukan untuk bertahan hidup.  Tentu makan, bergerak, bekerja dan hal-hal yang bersifat teknis itu adalah hal yang pokok demi melangsungkan kehidupan.  Sementara jika kita lepas sepenuhnya dari si AKU hanyalah ketika kita sudah tidak hidup lagi alias sudah mati karena berhentinya pasokan kebutuhan hidup bagi diri sendiri.

Hal yang paling mungkin adalah mewaspadai permainan pikiran itu serta mengamatinya tanpa penilaian apa-apa, karena sesungguhnya penilaian lahir dari pengetahuan, dan pengetahuan manusia itu diselimuti oleh pertimbangan untung rugi yang mulanya berasal dari si AKU!.  Kita mengontrol semua jalannya keinginan tanpa harus mengekang nafsu karena yang mengekang nafsu adalah nafsu itu sendiri.  Biarlah si AKU ini mendapatkan keinginannya apabila masih merupakan kewajaran sebagai kebutuhan penopang hidup namun jangan biarkan penilaian si AKU menguasai. 

Semuanya bisa dikendalikan jika kita ini mengenal tentang cinta kasih, walaupun sebenarnya cinta kasih tidak mengendalikan.  Hanya cinta kasih ini bersifat wajar, tidak dibuat, tidak mengandung pamrih.  Sehingga dengan cinta kasih kita mampu mewaspadai diri sendiri, sehingga gerak-gerik kita adalah wajar adanya sesuai dengan kehendak Hyang Maha Kuasa!.

Kamis, 23 Mei 2013

Susu : Faktor Osteoporosis

Artikel berikut adalah catatan yang saya publikasikan di facebook, beberapa saat yang lalu.  Saya menulis dengan segera catatan ini tidak lama setelah membaca buku "The Miracle of ENZYME dari Hiromi Shinya.  Selamat membaca.

***


Sebagian besar di antara kita mungkin sampai saat ini masih menganggap bila kekurangan kalsium adalah akibat dari kurangnya mengkonsumsi produk utama mainstream ini: susu.  Setidaknya, itulah yang dianut oleh manusia hingga abad-abad belakangan ini.  Kekurangan kalsium sangat mungkin menyebabkan hal-hal berikut ini [1] :
  1. Pada wanita hamil : gigi linu, sakit punggung pinggang ngilu, mual, insomnia dan keram
  2. Masa menyusui : gigi sakit, linu, sakit pinggang,
  3. Pengeroposan tulang (osteoporosis), tulang mudah patah
  4. Masa pertumbuhan : pertumbuhan terlambat,
  5. Menurunnya kekebalan tubuh (imunitas),  pertumbuhan tulang tidak baik, kebusukan gigi.
  6. Orang dewasa : keram otot, tegang, dan sulit tidur, jantung berdebar tidak normal, badan pegal.
  7. Menopouse : sakit pinggang, insomnia, tegang, suasana hati tidak baik.
  8. Manula : Insomnia, osteoporosis, tulang mudah patah, tinggi badan menyusut.


Osteoporosis[2], adalah salah satu kelainan pada tulang yang ditandai dengan perapuhan pada jaringan tulang yang diakibatkan karena kekurangan persediaan kalsium untuk menopang jaringan tulang itu sendiri.  Osteoporosis tidak bisa dianggap hal remeh, bahkan saat ini Osteoporosis dianggap sebagai salah satu penyakit yang mengancam kesehatan manusia, sehingga pada 23 oktober 2002 lalu dicanangkan hari Osteoporosis sedunia. Osteoporosis adalah ancaman utama bagi 44 juta orang Amerika dan 68%adalah wanita. Sepuluh juta diantaranya sudah menderita osteoporosis, sedangkan 34 juta mempunyai kerenggangan tulan (low bone mass) yang beresiko ke penyakit tersebut. satu dari dua wanita dan satu dari delapan pria akan mengalami patah tulang yang berhubungan dengan osteoporosis (osteoporosis - related fracture) dalam hidup mereka. Setiap tahun 80.000 pria Amerika menderita patah pinggul dan sepertiganya dari mereka meninggal dalam setiap satu jangka waktu setahun setelahnya. Setiap tahun 1,5 juta kasus patah tulang akibat osteoporosis, 300.000 patah pinggul, 700.000 patah tulang belakang, 250.000 patah pergelangan dan 300.000 ditempat lainnya.[12]


Sementara harapan para pakar/penyuluh kesehatan dunia akan berkurangnya kasus osteoporosis dengan menggalakan program sehat; yaitu menyertakan produk susu sebagai makanan wajib sehari-hari, kasus kurangnya kalsium serta kanker malah semakin meningkat dengan pesat, apa penyebabnya?.

Catatan saya kali ini akan mengulas secara singkat bagaimana produk susu kita dicerna di dalam tubuh dan dampaknya kepada masa depan kita.

Patut untuk direnungi bahwa, kita sebagai manusia adalah salah satu dari segelintir makhluk hidup mamalia(selain kucing dan anjing) yang masih meminum susu bahkan hingga usia dewasa, namun rasanya jarang sekali saya mendengar kasus tentang jerapah atau sapi yang mengalami osteoporosis, mengapa?.

Ada satu teori unik yang digagas oleh Dokter Hiromi Shinya[3], Di dalam bukunya yang berjudul "The Miracle of Enzym", dia memberikan fakta klinis dan hasil observasinya selama berpuluh-puluh tahun tentang kaitan makanan yang masuk ke perut manusia dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.  Shinya Hiromi memiliki keyakinan bahwa salah satu faktor pesatnya osteoporosis di masa kini adalah hasil gaya hidup yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah konsumsi produk susu.

Nah, apa kaitan antara konsumsi produk susu dengan osteoporosis?

Pada dasarnya, "susu adalah makanan yang paling sulit untuk dicerna"[4].  Di dalam susu, terdapat kasein[5] yang merupakan pembentuk protein paling dominan dalam susu, sekitar 80% protein dalam susu sapi adalah kasein.  Kasein pada dasarnya langsung menggumpal di dalam lambung ketika dikonsumsi sehingga menjadi sulit dicerna.  Selain itu, proses homogenisasi[6] yang biasa dilakukan dalam industri susu modern memicu oksidasi[7] pada susu.

Homogenisasi pada susu dilakukan untuk meratakan kadar lemak dengan cara mengaduknya.  Proses homogenisasi ini, ternyata tidak hanya meratakan lemak dalam susu, namun sekaligus mengikat zat oksigen kedalamnya, hasilnya : oksidasi.  Seperti yang kita ketahui, zat seperti lemak yang teroksidasi menghasilkan radikal bebas[8] yang mampu meracuni tubuh.  Dalam dunia medis populer, radikal bebas merupakan penyebab utama terjadinya kanker.

Susu yang mengalami Pasteurisasi[9](pemanasan)--akibat proses manufactur--menghancurkan essensi protein susu itu sendiri.  Jadi, susu yang kita nikmati sekarang adalah susu yang mengandung radikal bebas serta mengandung protein yang tidak lagi fungsional.

Pertanyaannya; kenapa kita tidak langsung jatuh sakit, kena kanker mendadak, atau masuk UGD selekas minum susu?.  Jawabannya : karena ada enzim di dalam tubuh kita yang menangani pertahanan tubuh berusaha mati-matian untuk melawan radikal bebas yaitu enzim anti-oksidan.  Selain itu, Kasein yang sulit dicerna membutuhkan perjuangan lebih banyak bagi enzim untuk memproduksi enzim amilase[10], Akibatnya, kinerja enzim terfokus pada proses pencernaan lebih banyak disamping harus mengeluarkan lebih banyak enzim anti-oksidan, sehingga kinerja enzim menjadi tidak optimal.

Perlu kita ketahui; ternyata kadar konsentrasi kalsium dalam darah manusia meningkat saat minum susu.  Atau pada orang-orang yang gemar minum susu, secara umum sering ditemui kasus hiperkalsemia[13a] yaitu kelebihan kadar kalsium dalam darah.  Normalnya, kalsium dalam darah manusia biasanya berkisar pada 9-10 mg[13b], ketika terjadi peningkatan secara tiba-tiba oleh tubuh saat mengkonsumsi produk susu, ternyata ada proses yang sangat merugikan tubuh kita disini.  Peningkatan ini ternyata bukan hal yang bagus, karena tubuh secara otomatis menaikkan kadar kalsium dalam darah saat kita minum susu.  Konsentrasi kalsium dalam darah yang meningkat disebabkan karena darah mengambil cadangan kalsium dari tubuh, darimana?, Tulang!.

Pada saat terjadi abnormalisasi konsentrasi kalsium di dalam darah, tubuh kita mengalami homeostatis[11]; menyeimbangkan keadaan abnormal akibat kelebihan kalsium dalam darah.  Bagaimana cara kerja homeostatis ini dalam menyeimbangkan kadar kalsium?, yaitu dengan membuang kelebihan kalsium dalam darah kita tadi.

Tubuh membuang kelebihan kalsium dari ginjal melalui urine, sementara kalsium yang digadang-gadang akan bertambah dari susu belum kunjung sampai.  Akibatnya adalah kalsium di dalam tubuh kita berkurang dengan sangat dramatis.  Sementara Karena kalsium dalam susu yang 'terbungkus' kasein yang sangat sulit dicerna itu, tubuh hanya mampu mengambil sedikit kalsium dari susu.  Sisa kalsium dari susu yang tidak bisa dicerna oleh tubuh kemudian terbuang bersama kotoran--atau lebih parah, menjadi tinja stagnant di usus besar karena masalah pada enzim pencernaan.

Maka, kekurangan kalsium sampai kasus osteoporosis bagi peminum susu-holic sangat banyak kasusnya kita temui.  Di Amerika, dimana produk susu merupakan makanan sehari-hari, kasus osteoporosis ataupun tulang retak akhir-akhir ini meningkat tajam.  Nah, jangan lupa, selain ancaman osteoporosis, zat lemak teroksidasi tadi mengancam tubuh kita dengan kanker.


Selamat menikmati produk susu anda hari ini, hail milk!





Sebelum menutup catatan ini : CMIIW



*)Ref:
[1] Kalsium dan manfaat serta fungsi dalam tubuh : http://b57ev.wordpress.com/2010/06/22/kalsium-calsium-dan-manfaat-serta-fungsi-dalam-tubuh/
[2] Wikipedia - Osteoporosis : http://en.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis
[3] Hiromi Shinya, MD.  Guru Besar Kedokteran AE-college of medicine, AS.  Spesialis Endoskopi gastrointestinal : http://en.wikipedia.org/wiki/Hiromi_Shinya
[4] Hiromi Shinya-"The miracle of E N Z Y M": hal 104
[5] Wikipedia-Casein : http://en.wikipedia.org/wiki/Casein
[6] Wikipedia-Homogenization(chemistry) : http://en.wikipedia.org/wiki/Homogenization_(chemistry)
[7] Wikipedia-Redox (reduction-oxidation) : http://en.wikipedia.org/wiki/Redox
[8] Wikipedia-Radical(Chemistry) : http://en.wikipedia.org/wiki/Radical_(chemistry)
[9] Wikipedia-Pasteurisasi : http://id.wikipedia.org/wiki/Pasteurisasi
[10] Makalah Enzim Amilase : http://sectoranalyst.blogspot.com/2011/09/makalah-enzim-amilase.html
[11] Wikipedia-Human Homeostatis : http://en.wikipedia.org/wiki/Human_homeostasis
[12] Wellness Centre Clinic - "Osteoporosis 'silent thief'" : http://wellnesscentreclinique.blogspot.com/2011/03/osteoporosis-silent-thief.html
[13]





*) Saya Jelas sangat mengapresiasi bagi para readers ataupun bloggers ataupun--bila mungkin--pakar kesehatan yang hendak menambah kekurangan pada catatan di atas.

Kamis, 16 Mei 2013

Mengatasi outbox stuck di Gmail Offline

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengirimkan email yang berisi laporan BTL kepada Supervisor Area dengan ukuran yang sangat besar; 19 MB.  Sangat besar mengingat di dalamnya ada foto-foto laporan event.  Meskipun telah dipecah-pecah dengan metode split saat proses kompresi, namun itu tidak menyelesaikan masalah.  Masalah lainnya yang lebih serius adalah ternyata email yang hendak saya kirimkan itu tidak bisa terkirim alias stuck di outbox.

Kebetulan saat itu saya menggunakan gmail offline dari google chrome untuk mengirimkan email.  Sialnya, saya berada pada daerah yang tidak tercover jaringan dengan kuat.  Akhirnya walaupun sudah saya split file attachment nya, tetap saja terjadi tragedi tersebut; file tidak terkirim namun tetap stuck di outbox.  Tetapi tidak berhenti disitu saja, akibat hal tersebut, saya jadi tidak bisa mengirim email lainnya karena harus mengantri hingga  email yang tidak terkirim tersebut benar-benar terkirim.  Dan itu jelas mengesalkan.

Permasalahan mungkin mudah saja diatasi bilamana pada gmail offline ada fitur "hapus" atau "pindah ke draft"  bagi email di outbox, tapi sayangnya itu belum saya temukan di gmail offline yang saya gunakan.  Bagaimanapun, semua ada jalan keluarnya.  Dan saya pikir hal yang saya sampaikan berikut ini akan berguna bagi anda.

Mula-mula, yang menarik perhatian saya pada setiap sistem komputer adalah kemampuan untuk menyimpan data pada masing-masing aplikasi maupun proses apapun yang terjadi di dalamnya.  Dan saya yakin sekali bahwa pada apapun aplikasinya, selalu ada tempat dimana data temporary seperti email outbox itu disimpan.

Akhirnya saya mencari tahu dimana letak file sementara dari gmail offline ini, dan ternyata ada di C:\Users\user\AppData\Local\Google\Chrome\User(namalogin anda) Data\Default\databases\https_mail.google.com_0

mungkin kurang lebih lokasi temp-file untuk anda sama seperti di atas.
Disitu saya melihat file-file dengan ukuran kecil dan satu file yang menyebabkan masalah buat saya ini, akhirnya semua file yang ada di folder https_mail.google.com_0  itu saya hapus semua.

Kemudian saya buka lagi gmail offline yang ada di google chrome, dan saya tidak lagi melihat email yang ada di outbox, setelah saya mencoba mengirim satu email untuk percobaan, akhirnya saya mengetahui masalah saya terpecahkan.

Jika ada yang ingin ditanyakan soal masalah ini, silahkan beri komentar di bawah.

Selasa, 30 April 2013

Art of Happiness


"Roda hidup itu berputar, nak" itu nasihat yang-entah darimana- selalu saya ingat agar tetap  bisa hidup dengan nyaman.  Sehabis pulang dari rumah tante Fatimah(and, ya, saya belum posting soal RISMA yang kemarin habis nongol di event provinsi, beliau punya jasa besar untuk ini, mungkin di postingan berikutnya) setelah ngobrol panjang lebar tentang tawaran ustadz Dadang-suami tante Fat- kepada kami agar bisa membantunya dalam event-event yang nanti akan diselenggarakan, in other words, kami ditawari jadi EO(event organizer) oleh beliau ini.  Kata "kami" dalam hal ini saya gunakan sebab bukan cuma saya seorang, melainkan ada dua orang lagi yaitu sang Ketua Risma dan sang handy-man ini.


Makan sudah, ngemil sudah, jadi lah saya sempatkan untuk berkangen-ria dengan blog yang sudah cukup lama tidak saya kasih postingan ini *ngelus2 monitor*.  Bicara tentang kebahagiaan, tidak pernah saya bosan untuk membicarakan ini di dalam angan-angan.  Setiap ingin tidur, saya kadang menyempatkan diri untuk menggambarkan kebahagiaan itu menurut versi saya sendiri. Apa itu?, ketika saya mencoba itu(mendeskripsikan kebahagiaan) yang kemudian tergambar dalam benak saya adalah rentetan gambar yang berkedip dengan kecepatan 3000fps lalu huruf-huruf yang bertaburan dan warna-warna berseliweran, lalu disusul dengan bintang-bintang dan akhirnya keadaan gelap gulita lalu saya tertidur.  Maksudnya?, kebahagiaan itu bagi saya masih terlalu abstrak untuk dideskripsikan, saya masih belum bisa mencoba menemukan "gambar" sesungguhnya kebahagiaan itu di dalam hidup saya.  Yang saya miliki untuk mengenali kebahagiaan itu satu-satunya adalah dengan menikmati apa yang saya lakukan sekarang.

Kemudian saya berasumsi bahwa kebahagiaan itu berkaitan dengan seberapa mood kita untuk menjalani hidup yang penuh tekanan ini.  Menurut saya hampir mustahil saya akan menemukan 'gambaran' kebahagiaan sebenarnya bila saya masih mencoba mempersempit arti kebahagiaan itu sendiri, seperti yang banyak orang lakukan; meng-identik-kan kebahagiaan dengan terpenuhinya segala sesuatu yang kita inginkan, sebagian lagi bahkan lebih sempit: kekayaan adalah kebahagiaan.

Oke, mungkin saya hampir menyempitkan konteks 'kekayaan' yang dimaksud oleh sebagian orang.  Mungkin bisa jadi bahwa kebahagiaan sejati adalah kekayaan; kekayaan hati, kebijaksanaan, keluhuran, atau dengan konteks yang serupa.  Namun percayalah, 'kekayaan' yang saya tangkap dari paradigma orang-orang sering berorientasi kepada nilai materi.  Seperti yang biasa saya ucapkan dipenghujung kalimat di DC; correct me if I'm wrong(CMIIW).

Saking ambigu nya hal tersebut, Kadang sering muncul pertanyaan ini di tengah malam; "kaya itu apa?, miskin itu bagaimana?.." .  Dan yang paling lucu-atau miris- adalah ketika ada orang berkata bahwa kebahagiaan itu bisa dibeli dengan uang, DIBELI?, seriusan?

Atau lagi, ada yang selalu mengeluh bahwa kemiskinan membuatnya tidak bahagia, kebahagiaan terhambat oleh kemiskinan, dst.

Saya tidak pernah habis fikir, kemudian, ini yang menggugah pikiran saya untuk menemukan bagaimana caranya bahagia meski tidak kaya, atau tetap bahagia meski di dalam kekurangan.  Sungguh, memberi 'standar' atau pun deskripsi soal kebahagiaan itu tidak mudah, karena ini cenderung subjektif.  Dan jika harus objektif, maka kebahagiaan tidak sekedar dinilai dari rasa saja, namun dari segi kognitif(konsep/pikiran).

Ada yang harus kita perhatikan tentang kecenderungan berpikir bahwa kepuasan adalah kebahagiaan, keduanya adalah hal yang berbeda.  Kadang ada orang yang selalu mampu mencapai sebuah kepuasan namun tidak dengan kebahagiaan, mampu memenuhi apa yang dia inginkan tapi kemudian masih tetap kehilangan sesuatu, kebahagiaan.

Ada yang bilang bahwa kebahagiaan adalah status emosi atau keadaan pikiran seseorang saat dia berada dalam keadaan yang baik yang ditandai dengan cinta, kesenangan, kegembiraan, kepuasan atau kenikmatan.  Kebahagiaan sering digambarkan dalam emotic :) atau :D.  Tapi apakah dengan tersenyum atau tertawa berarti dia sedang benar-benar 'bahagia'?.

Saya jadi ingat beberapa hal yang mungkin saja mempengaruhi bagaimana kebahagiaan muncul di dalam hidup kita, yang pertama adalah materi.  Sebagian orang(seperti yang saya sebutkan tadi) menilai bahwa materi -dalam hal ini kekayaan- mempengaruhi kebahagiaan di dalam hidup.  Itu semua tentang sejauh mana kita bisa memenuhi kebutuhan yang seharusnya.  Orang kaya cenderung lebih bisa 'meringis' ketimbang orang yang miskin, dengan kekayaan, banyak yang diinginkan bisa didapat dengan mudah, kepuasan akan pemenuhan kebutuhan yang mudah diraih membuat orang kaya cenderung hidup lebih enjoyable.  Namun selain itu, tetap pada suatu batasan tertentu, ada hal tentang kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah bisa dibeli dengan uang atau dinilai dengan materi.  Tapi kekayaan itu sendiri sejatinya yang membuat orang menjadi merasa bahagia, merasa 'berkelebihan'  dari orang di sekitar kita akan memberikan sebuah sensasi hidup yang memacu kebahagiaan itu muncul di dalam diri.  Maksudnya adalah status 'orang kaya' alias menempati urutan teratas dalam suatu lingkungan itu lah yang menjadikan orang cenderung lebih bahagia, bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa terpuaskan dengan kekayaan.

Kemudian setelah materi, adalah keinginan yang berkaitan kebahagiaan.  Keinginan dan kenyataan mempunyai andil besar dalam merobah mood dalam hidup anda, kebahagiaan anda.  Sering kali kita melihat orang kecewa lantaran keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan.  Ini penting, sangat penting sekali untuk mengontrol apa yang kita inginkan demi mencegahnya terlalu jauh keluar dari kenyataan.  Kita mula-mula harus mengetahui ada dimana kita sekarang dan apa yang kita inginkan itu haruslah reasonable dengan apa yang bisa kita kerjakan atau kita usahakan.

Ada beda antara keinginan yang muluk-muluk dengan sebuah impian.  Ketika seseorang berkeinginan untuk punya Toyota Alphard sementara usahanya hanya sekedar menabur mimpi(tidur, Red) itulah keinginan yang muluk-muluk.  Ketika seseorang berkeinginan untuk menjadi presiden dan sekarang dia belajar berbagai ilmu dengan giat, maka itulah yang disebut impian(cita-cita).  Dan kenapa saya tetap kekeuh untuk menyatakan bahwa mimpi itu begitu penting, alasannya ada di artikel sebelumnya.

Selanjutnya yang mempengaruhi kebahagiaan anda adalah tingkat ke-PD-an(self confidence) yang anda miliki.  Apapun yang anda kerjakan dan bagaimana anda mengerjakannya saat ini dipengaruhi oleh seberapa tingkat keminderan(tidak pede) yang 'menyerang' anda.  Sebagian besar orang mengalami tekanan yang luar biasa di dalam hidupnya karena merasa minder/tidak pede, ada kekurangan di dalam dirinya yang menurutnya itu sangat mengganggu, dan benar, semakin anda minder, semakin tidak bahagia anda dibuatnya.  Percaya diri itu penting, itu akan membuat pikiran anda terhadap dunia luar menjadi positif, dan yang paling positif dari percaya diri adalah anda akan menjadi lebih terbuka dan kemudian menjadi lebih enjoy menjalani hidup, dan kabar baiknya; orang yang PD akan selalu maju.

Saya acap kali mendapati orang yang selalu memiliki kesempatan membandingkan kekurangannya terhadap kelebihan orang lain, dan itu adalah masalah.  Kita perlu tahu bahwa manusia diciptakan secara khusus dan berbeda(mungkin anda perlu membaca artikel saya yang diterbitkan disini), apa yang menjadi kelebihan anda itulah yang harus ditonjolkan, dan kekurangan yang ada bukan untuk disedihkan atau diperbandingkan, melainkan diperbaiki meski tak bisa dihilangkan.  Pemikiran positif melahirkan energi yang membangun, dan pemikiran positif berawal dari bagaimana kita memandang diri kita sebagai subjek yang unik dan bermanfaat bagi orang lain.

Aspek sosial kehidupan anda juga mempengaruhi kebahagiaan.  Orang tentu akan merasa nyaman ketika berada di rumah; yaitu tempat dimana orang-orang menerima anda dengan terbuka dan mengakui anda sebagai bagian daripadanya.  Begitu juga kehidupan sosial, dimana ketika interaksi sosial anda baik, dan kecakapan sosial anda mumpuni, anda akan merasa seperti di rumah, nyaman.  Teman dimana-mana, tentu, semakin banyak teman semakin banyak rejeki, dan artinya rejeki anda bertebaran dimana-mana.

Terakhir mungkin yang mempengaruhi kebahagiaan adalah sikap anda sendiri.  Untuk hal ini, pada awalnya saya juga masih belum memahami benar, maksudnya, sikap anda yang baik akan membawa anda kepada kebahagiaan ataukah sebaliknya; ketika anda bahagia maka sikap anda akan menjadi baik.  Namun menurut pemikiran saya, sikap dan tingkah laku yang baik akan memberikan efek yang baik pula terhadap jiwa kita dan itu lah yang membuat kita menjadi bahagia.  Dan ketika kita sedang bahagia, maka tidak sulit rasanya untuk melakukan hal yang baik.

Ketika anda yang berada dalam keadaan yang berkelebihan belum merasa bahagia, atau anda yang berada dalam tekanan dan kekurangan sama sekali luput dari kebahagiaan itu sendiri.  Perhatikan lah, Tujuan hidup itu adalah hal utama yang menuntun kita pada kebahagiaan, bukan tentang apakah sekarang anda bahagia atau tidak, tapi tentang apakah sekarang anda ingin untuk mendapatkan kebahagiaan, atau tidak.  Karena pun, sejauh apa kita mencari kebahagiaan yang hakiki, meski terjerembab pada luka-luka di jalan menuju itu, kita selalu bisa memetik untaian pelajaran.  Semua aspek tentang kebahagiaan punya cara untuk memahaminya, darimana kebahagiaan itu dipandang, dari sisi biologis kah, psikologis kah, agama kah, filosofi kah, dll.  Bukan dipandang saja dari nilai materi.

Semuanya terlalu kompleks, kebahagiaan itu dengan standar-standarnya yang membentuk sebuah harmoni pada suatu titik, sebuah karya seni kehidupan.  Toh, begitu, Cara paling sederhana untuk bahagia bagi saya adalah mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada saya hingga malam ini, hingga angin malam berbisik kepada saya, "mungkin inilah kebahagiaan bung, sebuah bentuk abadi dari kebersyukuran!".

Minggu, 24 Maret 2013

Wakil masyarakat yang mana?

Jujur saya jengah, jengah sekali ketika suatu waktu(dan sering adanya) muncul sekelompok lembaga yang mengatasnamakan masyarakat atau wong cilik atau orang secara umum kemudian secara aneh sekali mengeluarkan statement yang--kembali--meminjam nama masyarakat.

Mereka itu seolah-olah menjadi pahlawan yang datang untuk membuat keadaan semakin mudah, padahal tidak.  Saya juga tidak mengerti apa maksud dari semua ini.  Ketika ada suatu kasus publik mencuat, mereka datang dan berkoar.  Berbuat seolah suara mereka benar-benar merupakan manifestai aspirasi masyarakat, berbuat seolah apa yang mereka lakukan adalah benar keinginan masyarakat.  Protes sana-sini dan membuat keributan, memancing orang lain untuk berbuat apa yang sebenarnya tidak mereka mengerti.  Saya tidak mengerti juga, mereka ini asalnya darimana?, memang kapan rakyat memilih mereka untuk mewakili masyarakat?, dan jika benar ada pemilihan, masyarakat mana yang memilih?.

Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia masih sangat rentan dan cenderung latah, sedikit saja sentilan dari sebuah kelompok, akan banyak orang yang terpancing dan itu yang kemudian akan memperkeruh keadaan.  Yang saya sesalkan sekali mungkin adalah penggiringan opini yang saya nilai merupakan upaya oknum tertentu, entah apapun maksudnya, yang jelas firasat saya menyatakan bahwa ini bukanlah hal yang akan baik-baik saja.

Apa kita tidak pernah belajar dari zaman krisis keamanan di tahun 60'an dulu?, masyarakat kita sampai sekarang masih banyak yang belum bisa menilai sesuatu secara obyektif.  Apalagi Media yang mulanya dipercaya sebagai pemberitaan yang 'apa adanya', sekarang malah menjadi alat untuk propaganda.

Terakhir kasus penyerangan di LP Cebongan Yogyakarta, yang mereka nilai sebagai kasus pelanggaran HAM berat banget.  Kemudian saya tanya; emang ada membunuh orang dinilai sebagai pelanggaran HAM ringan?.  Artinya begini, media seolah menggiring kita pada opini publik baru soal penyerangan tersebut sebagai sesuatu yang tingkat urgensitasnya ribuan kali lebih tinggi dan kemudian menenggelamkan kasus lain yang sebenarnya punya daya kritikan yang sama; masih ingat kan kasus penembakan anggota TNI gara-gara melanggar lalu lintas di Baturaja itu?.

Kasus yang lalu saja masih belum kelar, ini kasus baru dan yang lama sudah hampir tenggelam tanpa kita diberitahu bagaimana kelanjutan kisahnya.  Belum lagi kasus-kasus publik yang mencuat dan menenggelamkan kasus korupsi yang juga punya urgensitas tersendiri.  Tapi kita tentu maklum akan hal ini: media harus punya berita yang fresh untuk dibahas agar rating mereka naik dan stasiunnya tetap ditonton orang banyak.  Lagi pula, kita lebih suka mendengar cerita fantasi ketimbang kenyataan hidup kan?.

Lembaga, atau kelompok atau siapapun yang merasa mereka adalah 'wakil' dari masyarakat, saya lihat berusaha untuk menjadi tim hore di tengah kasus publik itu.  Mereka datang tanpa undangan masyarakat, nanti pun akan pergi tanpa masyarakat tahu jejaknya, seperti jelangkung kan?.  Kita pun akan disuguhkan wacana-wacana aneh dan ganjil, kita dipaksa untuk menelan kebenaran yang mereka senandungkan atas nama masyarakat, atas nama kita.  Itu rasanya aneh sekali, seperti saat anda mengantri tiket kemudian ada calo yang menawarkan jasa.  Siapa yang berani menjamin bahwa calo itu benar-benar membawa tiket yang asli?.

Benar, itu lah yang saya pikirkan sekarang.  Calo-calo kebenaran ada di sekitar kita.  Apakah mereka akan mempermudah kita?, sama sekali tidak.

Kita harus berusaha mendapatkan kebenaran itu tidak dengan memakan hasil olahan orang lain, kita harus memikirkan banyak hal untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat, terutama untuk hal yang sensitif.  Tidak sedikit orang yang masih awam dalam informasi, kewajiban kita adalah berusaha untuk tidak terpancing pada salah satu opini.  Kita tidak cukup hanya dengan mendengar, kita perlu membuktikan.  Dan ketika mereka berkata bahwa mereka adalah wakil masyarakat, wakil masyarakat yang mana?.

Karena ketika keadaan semakin sulit, tentu kita sepakat bahwa sebenarnya yang diinginkan masyarakat bukanlah hal-hal yang ruwet dengan banyak sekali kebisingan disana-sini.  Masyarakat yang sudah susah, jangan dibikin semakin susah.

Kamis, 21 Maret 2013

Sederhana yang Berguna

Dan, setelah seharian berkutat dengan kerjaan akhirnya bisa juga nyuri waktu untuk mampir ke blog dan posting sesuatu yang sedang nyangkut di kepala.  By the way, sudah agak lama juga gak posting ya, setelah ultah kemarin tiba-tiba hasrat menggebu untuk posting muncul kembali.

Nah, jadi begini.  Kita tahu bahwa menginginkan segala sesuatu adalah sifat alamiah manusia, dan itu sah-sah saja asal caranya baik dan benar.  Bahkan itulah justru yang membuat dunia ini hidup, karena ada hasrat, ada passion yang secara kompleks dan berkaitan memutar roda kehidupan.  Hasrat-hasrat itulah yang menorehkan warna di muka bumi, yang mampu membangun gedung-gedung setinggi langit, mengeringkan lautan, membuat kita mampu berbicara tanpa harus membuka mulut dan bertatap muka, berbelanja tanpa harus jalan ke pasar, menumbuhkan berbagai tatanan sosial baru beserta polemiknya.

Seseorang pada awalnya 'berkhayal' tentang cara untuk bisa terbang seperti burung.  Kemudian, dengan hasrat yang kuat itu tadi, dimulai lah berbagai cara untuk mempelajari, membuat dan mencoba untuk terbang seperti yang diinginkan.  Sekarang?, kita bisa menempuh perjalanan sangat jauh dengan waktu yang sangat singkat, dengan 'terbang'.  Dan berbagai hal yang pernah HANYA hadir di dalam dunia imajinasi manusia kini sudah mampu keluar dari perbatasannya, menembus dinding-dinding kemustahilan yang sesungguhnya terkekang oleh ketakutan orang untuk lepas dari dirinya sendiri.

Dari hasrat itu tadi seseorang kemudian memperoleh pembenaran terhadap apa yang diinginkannya,--selain cara untuk mewujudkannya.  Itu, pada awalnya tidak benar-benar akan menimbulkan masalah.  Namun ketika kehidupan mulai beranjak kepada keadaan yang lebih kompleks seperti sekarang, hasrat yang keluar dari dalam diri manusia patut pula kita pertanyakan; sudah benarkah?.

***

Seorang wanita 'cantik' di kantor selalu bicara tentang berbagai hal yang sangat menggangu di telinga saya, bukan hanya karena suaranya cempreng, namun apa yang dibahas itu sebenarnya sangat tidak enak untuk dikemukakan, apalagi mengingat orang-orang di sekitarnya.

Bukan hak saya memang untuk mengatur apakah anda ingin itu atau ingin ini dan lain sebagainya.  Seorang wanita yang rupawan, misalnya, boleh saja mematok standar hidup yang dianggapnya sesuai. Boleh, itu sangat boleh.  Bahkan untuk sekedar mengatakan seperti, "kalo aku mah pilih cowok yang minimal bawaannya Honda CRV", atau "cowok yang boleh deket sama aku itu harus pengusaha dan anak orang kaya", itu boleh saja.  Dengan satu catatan; tempatkan dimana semua itu harus dikatakan, dan jangan katakan dimana itu seharusnya tidak perlu dikemukakan.

Mungkin sebagian dari kita(pria), punya angan-angan yang similar soal kendaraan, minimal, itu tidak akan jauh-jauh standarnya, misal jika saya sangat suka dengan Aventador ini;
image by : neversaycool.com

tentu sebagian dari anda juga tidak akan menolak bila dikasih satu biji kan?.

Masalahnya kemudian adalah, saya tiba-tiba punya perasaan tidak enak ketika meninjau ulang selera saya soal yang satu ini.  Jika saya punya mobil ini pun, memang buat apa? apa yang membuat saya ingin sekali memiliki mobil ini?, lalu jawabannya tidak pernah melesat jauh dari : ingin membuktikan--atau pamer?.

Dan juga harga mobil ini tidak murah, bisa buat bikin panti asuhan 4 biji kali.  Selain itu mobil ini pantang lecet, tidak cocok juga kalo dibawa melintasi jalinsum sepanjang Lampung Tengah yang mirip congklak raksasa.  Buat apa bagus tapi useless?.

Atau, kamu menikahi CR-V nya, perusahaannya, bapaknya atau jiwanya?.. *ehm

***


Kita perlu untuk meninjau kembali tujuan hidup.  Kita barangkali perlu menyisihkan waktu barang 5 menit untuk merenung di pojokan gudang kantor, memikirkan darimana kita melangkah, apa saja yang sudah kita lewati, dan ada dimana kita sekarang.  Dan ya, barangkali pula kita akan menemukan bahwa ternyata hidup kita masih abstrak!.  Tujuan kita diciptakan akhirnya tertutupi oleh lembaran-lembaran hasrat yang menumpuk tidak karuan di meja kehidupan kita.  Kita mengejar apa yang seharusnya belum dulu kita kejar, kita meninggalkan apa yang seharusnya kita lakukan sesuai dengan untuk apa kita diciptakan.

Barangkali, kita melihat segala kemewahan itu adalah tujuan sebenarnya.  Tentu, jika anda menaburkan satu rim kertas di atas meja kerja anda, dan menutupi permukaannya dengan kertas tersebut, anda akan melihat permukaan meja atau tumpukan kertas-kertas yang berserakan?.

Barangkali, dengan sedikit usaha untuk merapikan lembaran-lembaran hasrat itu tadi, kita bisa lebih jernih melihat permukaan meja kehidupan yang menunjukan kita sebuah peta tentang apa yang seharusnya kita lakukan.  Bingung?, yuk mari abaikan.


Kesederhanaan sering dipandang sebagai sebuah kekurangan, saya bilang inilah retardasi intelektual yang sesungguhnya.  Saya sendiri kadang masih terpaku pada sebuah anggapan yang menggiring opini tentang kesederhanaan kepada hal-hal yang 'nanggung', 'pas-pasan', atau 'kurang greget'.  Padahal sederhana sangat erat hubungannya dengan kata 'cukup'.

Cukup adalah keadaan dimana kita tidak perlu merasa takut untuk kekurangan atau menjadi terlalu rakus akibat kelebihan.  Segala sesuatu yang cukup itu baik, dan sesuatu yang baik mengarah kepada hal-hal yang benar.  Makan secukupnya, istirahat secukupnya, sms'an secukupnya, dan sebagainya.

Tentu lebih baik saya punya mobil pick-up tapi sering dipakai buat usaha dan menolong orang ketimbang punya supercar tapi hanya buang uang dan pamer.  Tentu lebih baik anda memiliki seseorang yang sederhana tapi mengerti dan tetap mau mencoba mengerti anda sebagai pasangan ketimbang memiliki pasangan orang berlebihan tapi anda selalu tersiksa batin, kecuali anda mau mendramatisir kehidupan anda sendiri. --itu lain cerita, dan, brainless....


Gays, hidup bahagia adalah ketika kita mampu menikmati apa yang kita miliki sekarang.
Bukan memiliki segalanya, karena pun, banyak orang yang memiliki segalanya juga tidak bisa menikmati apa yang mereka miliki.


Kita sering mengabaikan apa yang disebut dengan kesederhanaan, menyia-nyiakan apa yang sudah kita miliki, menyepelekan pemberian sang khaliq, banyak muluk-muluk, banyak useless-nya ketimbang useful-nya.  Kita selalu menjadi konsumen dan gagal berubah menjadi kreator.  Kita selalu digiring oleh hasrat yang acak-acakan kepada tataran terbawah rantai kehidupan manusia; kita hanya mentok menjadi user karena kita sudah berada pada taraf useless.

Manusia menjadi seperti itu lantaran dirinya sudah kehilangan kemampuan untuk menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya, gagal menjadikan dirinya sebagai makhluk paling sempurna.  Karena kesempurnaan sejati timbul dari kesederhanaan, yang berguna bagi orang lain.  Mungkin kita bisa belajar dari rumput yang bergoyang.

Jumat, 22 Februari 2013

Dunia yang indah

Louis Armstrong- what a wonderful world

"ari..!!, kenapa belum kau siapkan air hangat untuk bapak?!" sorot mata yang merah itu menghampiri bocah mungil yang sedang memegang periuk panas berisi nasi yang baru saja dihangatkan. "plak..!!" tangan sebesar bogem itu mendarat dengan keras, bocah mungil itu terjatuh, periuk tumpah, menimpa kakinya, sedang nasi berserakan dan sebagian berhamburan di seragam merah-putihnya yang agak kumal.  "ampun pak,.. ari barusan ngangkat nasi, air sudah dipanaskan.." sambil memijit-mijit betis kanannya yang terlihat memerah, semerah matanya yang berkaca-kaca.  Kemudian Ari memunguti nasi di lantai yang sudah terlanjur berserakan, memasukan sebagian kembali ke dalam periuk.  Dia berdiri lalu membersihkan butiran-butiran nasi di seragam sekolahnya, meringis sambil menatap bapaknya, "sebentar pak, ari ke belakang dulu.." ari mengangkat periuknya, berlari ke dapur dengan sedikit pincang.  "cepat...!!, bapak mau kerja ini..!, dasar anak gak berguna!.." sambil kembali melayangkan tangannya yang kasar ke belakang kepala ari.
Ari berada di dapur, menuang isi periuknya ke tempat nasi.  Sambil mengusap air matanya.  Di ujung meja dapur ia melihat pisau pemotong daging menancap tegak di atas parutan kelapa, bekas memotong bawang tadi pagi.  Pisau itu bersinar, menarik pandangangannya, seolah pisau itu memiliki jiwa yang menarik hatinya.  Harus apa?,.. kakinya pincang dan ada luka bakar baru disitu, seorang pria setengah baya yang duduk di atas kursi malas di ruang tengah itu, dan pisau itu.. belum lagi perlakuan yang kemarin-kemarin,, yang dulu-dulu,, harus apa?..

***


Di pojokan ruang yang dingin dan gelap itu dia meringkuk, lalu matanya menatap ke luar jendela berjeruji di depannya, dagunya diletakkan di atas kedua tangannya.  Masa depan di bayangannya menjadi semakin redup, dia merindukan mimpinya dimana dia sedang berpakaian rapi, mengenakan jas mewah, hitam-hitam, dasi yang mahal, sepatu yang mahal, rambut yang disisir rapi.. turun dari limousin berwarna hitam, disapa oleh ribuan penggemar, kemudian dia menyapa dengan lambaian tangannya.  Bayangan itu terdistorsi, mungkin angin lembab sedikit demi sedikit mengikis impiannya.

Kemudian dia menyandarkan punggungnya ke tembok, merenungi nasib dan apa yang ada di hadapannya.  Sekeliling tembok di ruangan itu bercerita tentang ekspektasi kebebasan, sebuah naluri manusia dalam keinginannya untuk mendokumentasi kejadian-kejadian, memori,.. teriakan-teriakan yang terkungkung dalam kapur bata merah yang tergurat di tembok.

Ruang 3x4 itu tidak pernah lebih terang dari goa, lampu 5 watt yang juga sudah lama tidak diganti itu juga mungkin enggan untuk bersinar, membuat suasana jadi remang-remang.  Pintunya sempit berjeruji, temboknya berjeruji.  Sekarang ruangan itu begitu sunyi, minggu kemarin masih ada temannya, dua orang.  Yang satu tewas dalam perkelahian, dan media massa meliputnya dengan judul "seorang narapidana tewas bunuh diri di kamar mandi", padahal 2 bulan lagi sudah waktunya bebas.  Yang satunya lagi sudah bebas kemarin, ditebus oleh bosnya, dan bisa dipastikan beberapa bulan lagi akan kembali ke dalam penjara, seperti siklus.

"Ari..!, ada seseorang yang ingin bertemu," suara berat itu berasal dari luar selnya, kemudian pria berseragam itu membuka gembok jerujinya, "cepat," katanya sambil membuka pintu.  Ari kemudian bergegas, penasaran dengan orang yang membesuknya, setelah hampir 10 tahun meringkuk di dalam penjara.

***

Sekat kaca tebal itu memisahkan dua orang pria, yang muda, dan yang tua.  Menit-menit awal masih saling berdiam diri, kemudian pria tua dengan kepala beruban itu mencoba untuk membuka percakapan.  "sudah sarapan?,"

Pemuda itu menatap tajam ke arah orang tua itu, lalu tidak terasa matanya berkaca-kaca.  "maaf pak, " sambil mengusap air matanya, dia berkata, "maaf jika ari selalu merepotkan bapak, ". Tangannya mengepal, memukul-mukul meja kayu di hadapannya dengan pelan.  Kemudian ari menunduk, "jika saja waktu itu ari tidak merobek perut bajingan itu, mungkin ari akan kehilangan bapak.." air matanya menetes ke lantai... "Ari sayang dengan bapak, cuma bapak orang yang ari miliki di dunia ini.."

***

(10 tahun lalu)

Pisau di ujung meja itu sangat menarik perhatiannya, ada apa gerangan kah?... tiba-tiba dia ingin sekali menggenggamnya, dan tidak kuasa untuk melawan keinginannya tersebut.  Dia menghampiri pisau tersebut dengan kaki yang pincang.  Dipegangnya pisau besar tersebut, ya, dia merasakan sensasi luar biasa, tapi tidak tahu dari mana asalnya.  Kemudian mencabutnya dari parutan, pisau itu lumayan berat jika hanya digunakan sebagai pemotong sayuran.  Pisau itu bersinar, pisau itu semakin memikat hatinya manakala wajahnya terlihat sebagai refleksi di dalam pisau tersebut.

"hei Jafar!!, " suara itu memecah suasana, "brak..!!" terdengar suara pintu dibuka dengan paksa.  Ari bergegas menuju ke arah ruang tamu, disana bapaknya sudah berada di hadapan pria berambut gondrong mabuk yang sedang mencengkeram kerah bajunya.

"mana janjimu untuk membayar hutang?!, " kemudian dia mengeluarkan sebilah golok dari belakang bajunya, "atau kamu cari mati, heh, jafar??!!" sambil menempelkan golok ke leher Jafar.
"sabar dulu bang, aku sudah janji besok, bukan sekarang.." kata Jafar dengan terbata-bata, "ahh.. aku mau sekarang, bukan besok!!" kemudian pria itu menendang dada Jafar, dan dia tersungkur menabrak meja kaca yang lalu pecah.  Jafar berusaha bangkit untuk menyelamatkan diri, namun pria itu mengayunkan goloknya ke punggung Jafar, darah bercipratan kemana-mana, jafar tersungkur di ruang tengah.  Nampaknya pria itu belum puas, lalu mengejar jafar dan sekali lagi dia berusaha mengayunkan goloknya ke arah kepala jafar.  Namun tiba-tiba pria itu berhenti, matanya terbelalak.  Pisau selebar dua inchi itu menembus dada kirinya, kemudian berjalan merobek perutnya.  Lalu dengan berulang-ulang daging di tubuhnya ditusuk dengan pisau daging, Ari sedang kalap menyerang membabi buta ke arah pria itu, dia melakukannya dengan mata yang nanar, dan,.. sedikit senyum di bibirnya.

Kemudian melihat bapaknya yang bersimbah darah, ari menghentikan sejenak aktifitasnya, kemudian terhenyak sendiri dengan apa yang baru saja dilakukannya.  Dia melihat pisau besar yang berlumuran darah itu, dia melihat lemari kaca di sampingnya, ada anak kecil berseragam merah-putih, yang sebagian besar menjadi merah lantaran lumuran darah.  Anak itu sedang memegang pisau besar, lihat,.. betapa kejamnya anak itu, mengapa bisa terjadi?.

Lalu ari membuang pisau tersebut ke sudut ruangan, dia melupakan perasaannya, dia hanya terfokus pada ayahnya yang sekarat di ruang tengah.  Kemudian dia menghampiri ayahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menggendong ayahnya ke luar rumah, lalu berteriak-teriak minta tolong.  Semua menjadi terasa berat, matanya lelah, bau anyir kemudian memenuhi hidungnya.  Para tetangga berdatangan, paru-parunya terasa asing, Ari ambruk ke tanah..


***

Pria tua itu berusaha untuk menggapai pemuda di balik kaca, meski tahu tidak akan bisa.  Air matanya ikut menetes, lalu sebentar kemudian membanjiri pipinya.  "sini nak, sini.. maafkan bapak yang tidak bisa mengurusmu dengan benar..", dia hanya bisa mengelus kaca di hadapannya.  Pemuda itu mendekat ke arah kaca, menempelkan pipinya yang basah karena air mata.  Jafar kemudian mengelus pipi Ari dari balik kaca, "setelah ini, jangan menyerah untuk melanjutkan hidup, nak.., Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita, dan, percayalah bahwa hidup selalu punya caranya sendiri untuk mengajari manusia.. ".   Kemudian bapak beranak itu berpadu dalam suasana hening, keduanya berusaha untuk meresapi pertemuan hari ini, karena mungkin tuhan punya rencana lain besok.

...


Louis Armstrong- what a wonderful world

Minggu, 13 Januari 2013

Danbo : vor dem spiegel

Yak, setelah berjam-jam di depan netbook, orderan kelar, sambil juga iseng bikin artwork.  Bikinnya pake blender, hehehehe, bukan blender untuk ngaduk adonan loh beroo, sebelumnya udah diposting kok soal blender ini.
Nih, judulnya sih "vor dem spiegel", artinya di depan cermin.
Ceritanya tentang danbo yang terpesona dengan dirinya sendiri yang ada di dalam cermin tersebut.



Yang mau download bisa langsung klik aja gambar di atas.
By the way, Thanks sudah visit blog ini :)

Kamis, 10 Januari 2013

Belajar Blender,

Yups, malam ini masih sibuk di depan netbook kesayangan, belajar design 3D pake salah satu program open source yang mantep sangat ini : Blender.  Weiiitss, meski namanya seperti alat untuk membuat kue, tapi software ini sudah banyak digunakan untuk memproduksi film-film animasi lho!.
Hampir 4 hari ini fokus banget di depan netbook, meski sebelum-sebelumnya sempat megang, namun gak sedalam ini, dalam artian gak seserius ini, cuma main-main aja :p.
Info lebih lanjut soal blender bisa liat di wiki.


Ini saya sedang belajar membuat landscape sederhana, tapi meskipun 'sederhana' ternyata emang kalo gak terlalu sering megang ya kaku juga.  Yaa, good luck aja deh buat saya malem ini ya, semoga sukses di chapter ini!.

Dan kalo kawan-kawan ingin cari tutorial yang mantep-mantep untuk menggunakan blender, bisa liat disini ==> http://www.blender.org/education-help/tutorials/


Rabu, 09 Januari 2013

MENGAPA MIMPI BEGITU PENTING?



"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit", dan kemudian "tulis mimpimu di atas kertas dan pasang 5cm dari dahimu".
Adagium yang pertama dan selanjutnya kebanyakan dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif, padahal memang keduanya berbeda dan saling melengkapi.  


Mimpi yang akan saya bahas disini bukanlah suatu bunga tidur yang sejatinya tercipta dari alam bawah sadar manusia, tapi mimpi yang sengaja dibuat oleh manusia, secara sadar.  Mimpi yang berarti cita-cita, pengharapan, dan keinginan.  Disebut mimpi karena cita-cita itu begitu kuatnya, bukan lagi sekedar pengharapan yang lewat atau terbang begitu saja, namun karena kuatnya keinginan, hingga sering bermanifestasi dalam bayang-bayang yang nampak dalam kehidupan, sebuah dorongan keinginan yang harus segera diwujudkan, atau, ingin sekali hal itu terwujud.

Kemudian ketika kita berbicara soal mimpi dengan konteks cita-cita, kita akan menemukan banyak sekali cerita-cerita yang dibungkus dalam berbagai bentuk, film-film, novel, kita juga barangkali sering disuguhkan saat seminar pengembangan diri, dan pepatah-pepatah.  Seolah begitu penting nya hal ini selalu ditransfer kepada orang lain dengan berbagai cara pada setiap jamannya, dimana kemudian gagasan itu menyebar dan mempengaruhi setiap orang di dalam lingkup kepentingannya.

Kita mungkin pula tahu dan ada kalanya sering mendengar pertanyaan-pertanyaan legendaris ini, yang berkaitan dengan perencanaan tujuan hidup yang jelas: ada dimana kita sekarang?, akan kemana nanti?, bagaimana cara untuk sampai kesana?..

Pertanyaan pertama bertujuan untuk membangkitkan seseorang ke alam sadarnya, membawanya utuh ke dalam realita dimana  nantinya manusia akan menghabiskan seumur hidup di situ.  Sebelum jauh melakukan apa yang tidak disadarinya, manusia harus mengerti betul tempatnya sekarang, dalam artiannya adalah siapa dirinya, bagaimana keadaannya, mengapa harus ada disitu, dan dalam waktu itulah seseorang harus belajar dasar-dasar tentang dirinya yang sekarang, terutama mengetahui kelemahan-kelemahannya.

Karena pada dasarnya kekuatan terbesar manusia adalah jika seseorang mampu mengetahui dan mengerti kelemahan-kelemahannya, karena pula seseorang tidak akan bisa menghadapi segala sesuatunya, dan pasti akan menemui kejatuhan bilamana belum mengerti tentang kelemahan-kelemahannya dan cara mengatasinya.  Bukankah yang menghancurkan manusia itu umumnya adalah berasal dari dirinya sendiri?.

Pertanyaan kedua adalah fokus dari apa yang hendak dicapai, disitu lah kerangka berfikir tentang tujuan, cita-cita, mimpi, disusun.  Kehidupan adalah sebuah perpindahan yang tidak ter-elakkan, tanpa diketahui sebelumnya pun, kita akan secara otomatis akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari suatu keadaan ke keadaan lainnya, atau minimal dari satu waktu ke waktu lainnya.  Dan itu semua kemudian akan menggilas kita jika kita tidak punya plan yang jelas, kita akan tetap menjadi tua, akan tetap mengalami pergantian keadaan, dan yang pasti akan mati.  Tapi apakah kita akan menjadi tua tanpa mengisi itu dengan sesuatu yang terarah?, apakah kita hidup hanya untuk menunggu kematian saja?, tentu usia atau rentang waktu antara kelahiran dan kematian itu ada sesuatu yang memang sudah dipersiapkan oleh sang Pencipta untuk makhluqnya.

Kita mungkin pernah tahu adagium ini : kehidupan sejatinya adalah tenggat antara huruf B(Born/lahir) dan D(Death/mati), yang ditengah-tengahnya adalah huruf C(Choice/pilihan).  Kita sudah melewati kelahiran dan tumbuh, dan pasti suatu saat kita akan menemui kematian, tidak bisa tidak.  Namun pilihan hidup adalah sesuatu yang lain, bisa saja ada, bisa saja tidak.

Kita bisa memilih untuk mati tanpa menjadi apa-apa saat hidup atau mati dengan meninggalkan sebuah cerita di dalam kehidupan, ya, itulah perjuangan.  Tapi, perjuangan untuk apa?, maka di sinilah fungsi cita-cita, gagasan, mimpi dan pengharapan.  Semuanya yang kemudian saya sebut visi adalah inti dari kehidupan.  Segala pergerakan dan perpindahan itu mengarah kepada suatu tujuan, tergantung apakah tujuan itu disengaja, tidak disengaja, atau sudah ditetapkan-Nya(mati).

Maka pilihan itu bekerja dan sebaik-baiknya pilihan adalah pilihan yang didasari oleh kesadaran kita dalam memandang realita tempat dimana kita berada saat ini, sebuah tujuan : aku sekarang berada disini, selanjutnya akan kemanakah aku?.

Menyusun sebuah skenario kehidupan itu bukan tugas manusia, manusia hanya punya kewajiban untuk memilih dan berdo'a, memilih untuk bermimpi dan berusaha, atau diam menunggu mati.
Tujuan yang ada dalam mimpi itulah kemudian yang membedakan antara saya dan anda, kalian dan mereka, juga antara manusia dan 'sekedar manusia'.

"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit", dan kemudian "tulis mimpimu di atas kertas dan pasang 5cm dari dahimu".

Adagium yang pertama dan selanjutnya kebanyakan dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif, padahal memang keduanya berbeda dan saling melengkapi.  Bermimpi setinggi-tingginya itu penting, kita harus punya standar prestise yang harus diraih, dengan begitu semakin besar dan kuat usaha yang akan kita lakukan.  Tapi begitu sudah dicita-citakan, maka mimpi itu tidak lah boleh lenyap tenggelam didalam bintang-bintang, mimpi itu harus benar-benar bisa diingat, harus benar-benar bisa dilihat dan dilihat setiap waktu, maka kembali seperti di atas : "Disebut mimpi karena cita-cita itu begitu kuatnya, bukan lagi sekedar pengharapan yang lewat atau terbang begitu saja, namun karena kuatnya keinginan, hingga sering bermanifestasi dalam bayang-bayang yang nampak dalam kehidupan, sebuah dorongan keinginan yang harus segera diwujudkan, atau, ingin sekali hal itu terwujud."  Maka, letakkanlah daftar cita-cita yang sudah digantungkan itu sedekat mungkin dengan hatimu, agar motivasi itu terus mewarnai kehidupanmu, jangan kau jauh-jauh dari mimpimu, jangan sampai terlupakan, kalau perlu pasang 5 cm dari dahimu, dengan begitu pertanyaan ketiga akan menjadi jelas jawabannya.

Pertanyaan ketiga adalah buah yang jatuh dari pohon jawaban dari pertanyaan kedua, karena begitu kita fokus pada suatu impian, maka upaya yang kita lakukan akan berjalan mengikuti impian.  Maka sudah dikatakan tadi, impian yang tinggi semestinya menghasilkan upaya yang sebanding pula, ketika anda belum sampai kepada impian tersebut, setidaknya apa yang anda raih mungkin akan lebih dahsyat ketimbang jika anda tidak punya target.

Bagaimana jika pada suatu titik kita merasa tidak mampu untuk terus berjuang menggapai mimpi yang selalu membayang-bayangi kita?, itu wajar, ketakutan pada awalnya adalah wajar, tapi yang utama adalah niat, keyakinan, karena begitu anda yakin akan sesuatu hal, maka keyakinan itu yang akan memilih anda.  Di buku The Alchemist misalnya digambarkan, bahwa alam semesta akan membantu anda ketika keyakinan sudah kuat kuat di dalam diri.  Banyak hal baru yang akan anda alami nantinya dalam meraih sebuah impian, dan akan banyak rintangan pastinya.  Yang jelas:

Mimpi - Usaha = Khayalan
Mimpi + Usaha = Kenyataan

Itulah yang kemudian membedakan antara mimpi, dan 'hanya mimpi'.

Tapi inilah yang kemudian mendasari mengapa mimpi menjadi begitu penting, bukan soal akan berhasil atau gagalkah anda dalam menggapai impian tersebut, tapi prosesnya itu yang akan mengajari anda banyak hal, proses itu yang penting.  Dimana anda akan banyak pelajaran yang anda petik, yang nantinya akan berguna sekali di masa depan, baik untuk anda maupun untuk orang lain.  Karena, "salah bisa diperbaiki, gagal bisa mencoba lagi, tapi menyerah berarti selesai!(@miemie19Falinda )"

Selasa, 08 Januari 2013

The Past, Now and The future : Tulang rusuk, Poligami, dan Gen


Tujuan umum dari pernikahan adalah 'mencetak' generasi manusia yang baru, sementara kualitas(dalam hal ini kecerdasan) sejatinya diturunkan secara genetik(1969, Arthur jensen), yang pada penjelasan lainnya pula dikatakan bahwa tingkat kecerdasan seorang anak mewarisi secara genetis sebagian besar dari ibunya(menurut Dr. Ben Hamel, ahli genetika UMC Nijgemen, Netherland).  Maka mungkin ini pula yang melatarbelakangi pedoman mengapa laki-laki sebaiknya memilih Wanita yang unggul, dalam kualitas diri, terutama kecerdasan emosional, sosial dan spiritual.

Minggu, 06 Januari 2013

Nada Mayor


Kita selalu mendengar nada-nada keras yang terlantun dari kalangan mayoritas,
mereka bertingkah layaknya Tuhan, hakim sana-hakim sini..
Mereka berteriak, "ini rumahku, ini tanahku,", atau,"kalian minoritas, harusnya hormat kepada yang paling banyak, jika tidak suka, silahkan pergi jauh-jauh".

Mirisnya minoritas hidup di sistem demokrasi, (atau, sistem voting?),..
ketika yang paling banyak berkuasa, dan yang terpinggirkan selalu minoritas..

Jika mayoritas = superioritas,
kenapa yang maju dan memajukan justru muncul dari kalangan minoritas?,
apakah golongan mayoritas ini cuma numpang nama dari hasil kerja orang-orang 'terpinggirkan dan parasit' ini?..

toh, mereka yang menyebut kaum minor sebagai 'parasit', 'tamu gak tau diri' dan/atau 'orang abnormal' ternyata memang tidak pernah mau berbuat lebih jauh, tanpa imbalan..
tersungkur dalam kejayaan masa lalu, mayoritas dan 'tuan rumah'..
Lagak mereka yang seperti kumpulan orang penting, seperti dilahirkan untuk menjadi eksklusif,

dan, ya.. bukankah anak-anak dari kalangan elit, samurai di jepang, pun binasa karena hal sepele : kosmetik?..
bagaimana mayoritas ini bisa berbangga-bangga dengan statusnya padahal mereka banyak mendengarkan cerita tentang kejayaan-kejayaan orang-orang terdahulu yang, di dalam banyak kesempatan, dibinasakan dengan berbagai cara..

Ada kalanya yang kuat menjadi lemah, yang besar menjadi runtuh, yang banyak menjadi habis,.. karena, roda hidup selalu berputar, nak..

Senin, 31 Desember 2012

Hadiah akhir tahun

Tidak terasa, tahun 2012 udah hampir berakhir, sekitar 11 jam lagi kita sudah berada di tahun 2013.  Dan, selama kurang lebih 365 hari ini sudah berapa banyak kemajuan-kemajuan yang sudah dilakukan?.

Sabtu, 22 Desember 2012

22-12-2012, and We are still here.

Sampai saya menulis artikel ini, masih belum terjadi apa-apa seperti yang diisukan dalam beberapa waktu belakangan ini, kecuali pemadaman listrik yang umum kami alami di kampung sini.  Wacana tentang kiamat yang beredar luas di tengah masyarakat memang memprihatinkan, ini mirip-mirip dengan kejadian sekitar 13 tahun yang lalu, pada tahun 1999, sempat juga tersebar isu tentang akhir dunia yang digembar-gemborkan sehingga saya gagal untuk melihat festival gajah

Minggu, 16 Desember 2012

Pilih : Kekasih, atau Teman?

Sore tadi kalo gak salah, saya sempat menyaksikan salah satu tema dalam serial TV yang menarik untuk dibahas.  Apa sih namanya, lola love ya?, eh, lolly Love.  Serial TV ini merupakan kumpulan cerita seputar cinta, dunia remaja.  Saya tertarik membahas tema yang kebetulan dikemas tadi, intinya begini : pilih teman atau kekasih?.


Sebagian dari kita tentu pernah, sedang, dan mungkin akan mengalami situasi ini : dimana saat kekasih kita justru lebih banyak meluangkan waktunya untuk teman-temannya, ketimbang bersama 'kita'.  Klasik, masalah yang sering dikeluhkan oleh sebagian besar orang yang memiliki kekasih(sorry, mblo, artikel yang ini agaknya kurang nyaman untuk anda.)  Permasalahannya, apakah pantas, seseorang melontarkan pertanyaan di atas ketika batas kesabaran sudah 'habis' akibat kekasih terlalu banyak nyuekin dan justru malah semakin asyik dengan kawan-kawannya?.

Sebelum melakukan itu, saya sarankan anda ngaca dulu, serius.  Ngaca dalam artian yang harafiah dan juga introspeksi diri.  Sebab tidak ada asap tanpa didahului api, kan?.  Maksud saya, ketika asap sudah kebul-kebul di tengah-tengah hubungan anda, yang mengakibatkan kegamangan dan kegalauan dalam menjalaninya, cari dahulu sumber, asal-usul, sebab, darimana sih asap yang bikin jalannya bahtera ikatan cinta anda itu batuk-batuk.

Kebanyakan, yang sering melupakan kekasihnya dan asyik dengan teman-temannya adalah dari kaum laki-laki.  Bukan gak beralasan, laki-laki itu solidaritasnya kental, teman adalah asset berharga bagi masa depan yang akan menunjang pergerakannya nanti.  Hidup itu pasti butuh orang lain kok, apalagi kaum laki-laki memiliki kewajiban untuk mampu berkolaborasi di tengah masyarakat nantinya.

Meskipun begitu, ada batas 'wajar' yang harusnya tetap dijaga ketika seorang laki-laki sudah memiliki kekasih apalagi berumah-tangga.  Ini masalah manajemen waktu, harus ada komitmen yang dititik-kan demi menjaga kelangsungan hubungan itu, kalau perlu, dibuat semacam perjanjian tertulis yang khusus diperuntukkan untuk itu dan dibubuhi materai 6000 serta ditandatangani oleh kedua belah pihak, nah lho, intinya harus tegas!.

Tapi, bagi wanita, harus diperhatikan juga mengapa laki-lakinya kerap lebih suka bersama dengan teman-temannya ketimbang menghabiskan waktu bersama anda.  Setiap manusia pasti punya celah bosan, ada fluktuasi yang jika dituangkan dalam bentuk grafik, akan berbentuk seperti cacing kepanasan.  Tugas wanita adalah mencari tahu, letak titik kebosanan laki-laki dan faktor lain berupa pertanyaan seperti : apakah saya sudah cukup ideal untuk bisa menemani dan menghabiskan waktu bersama, misalnya, dengan suami saya?.  Lalu, apakah saya sudah cukup se-penting itu untuk bisa diprioritaskan oleh kekasih saya?.   Dan, sejauh apa?.

Seseorang akan betah dengan keadaan yang diinginkannya, nyaman dengan orang-orang yang mampu meramaikan hatinya.  Teman ngobrol, itulah yang dibutuhkan setiap orang.  Kenapa kekasih anda lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, itu adalah karena dia lebih bisa menyuarakan pikirannya dan bisa saling berkomunikasi sesuai dengan apa yang diinginkannya.  Dia bisa enjoy mendalami momen saat bersama-sama dengan temannya, dengan sedikit sekali tekanan dibandingkan bersama kekasihnya.

Maka, seharusnya kita sebagai kekasih harusnya mampu mendalami minat dan mengerti kebutuhan dirinya, kita harus mampu menjadi teman yang 'nyaman', yang bisa selalu dirindukan dan juga mampu merangsang obrolan-obrolan yang produktif.  Sehingga ketika bersama kekasih, tidak ada istilah garing.  Syukur-syukur jika anda dan sang kekasih memiliki hobi dan/atau minat yang sama, disitulah nanti akan terbangun chemistry, romantisme macam itulah yang mestinya dibangun dalam suatu hubungan.

Saling melengkapi dan mengisi adalah solusi paling jitu untuk mempertahankan hubungan dan meluweskan komunikasi antara anda dan sang kekasih.  Masalah diutamakan atau tidak itu tergantung bagaimana anda mampu memahami orang lain, memenuhi kebutuhannya dan juga cara memperlakukan orang lain.  Otomatis, ketika anda sudah menjadi yang terbaik bagi istri, suami atau kekasih anda, maka anda akan selalu menjadi yang utama dari yang paling utama.

Keterbukaan kemudian menjadi hal yang patut diperhatikan juga, sebab dengan keterbukaan, kita mampu untuk menemukan, apa sih yang harus dan tidak harus, boleh dan tidak boleh, kita lakukan kepada pasangan demi menjaga hubungan baik itu tadi.  Lain soal jika pasangan anda adalah orang yang sangat tertutup, lalu kemudian dia marah-marah karena anda dianggap tidak perhatian kepadanya.  Lah, apa yang mau diperhatikan jika kita tidak tahu apa yang menjadi keinginannya?.

Dalam hubungan, kepekaan itu memang perlu, tapi tidak boleh menebak-nebak, harus ada kejelasan dalam hal apa pun supaya nanti kedepannya akan lancar dan tetap harmonis.  Usaha-usaha yang lain juga terus dilakukan supaya anda bisa menjadi sosok yang ideal yang dianggap 'pantas' untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang kekasih, meminimalisir kecenderungan kekasih untuk lebih memilih bersama dengan kawan-kawannya, meski dalam porsi tertentu, kekasih anda wajib untuk menjaga silaturahmi dengan kawan-kawannya.

Tapi apakah semua usaha-usaha itu harus anda sendiri yang menjalaninya, sementara kekasih anda tidak wajib untuk itu?, salah!  Keduanya harus berjalan beriringan, keduanya harus berusaha dan saling mengisi itu tadi, tidak boleh hanya satu pihak yang mati-matian untuk itu sementara yang satunya cuek, itu artinya kekasih anda tidak serius dengan anda.  Untuk permulaan, okelah anda berusaha untuk 'menyadarkan' sang kekasih supaya dia juga mengusahakan sesuatu untuk hubungannya.  Tapi ingat, indikator cinta adalah pengorbanan, dan jika hanya anda yang berkorban, sedangkan kekasih anda tidak, artinya yang mencintai hanya anda, dia tidak, simpel kan?.

Tidak ada sebenarnya, istilah memilih teman atau kekasih, semuanya bisa berjalan beriringan dengan porsi yang disesuaikan serta berbagai pengertian.  Memutuskan salah satunya, atau memaksa seseorang untuk memilih salah satunya, adalah tindakan terdungu yang saya ketahui kecuali jika salah satunya bermuara pada sesuatu yang negatif bagi sang kekasih.

Yang terakhir, anda harus benar-benar mampu menilai pasangan anda, ketika anda ingin berusaha menjadi yang ideal untuknya, apakah dia juga sudah cukup ideal untuk untuk anda?.  Yang jelas, bagaimana pun, cinta itu akan menemukan jalannya.

Jumat, 07 Desember 2012

27 Tahun

Kita bisa melihat matang(atau busuknya) seseorang, hasil dari apa yang dia pelajari di masa muda, bentuk jati dirinya, dan bakatnya yang tumbuh, pada umur 27 tahun.  Saya ambil 27 tahun karena itu adalah stage awal (untuk standar saya) dalam melihat kehidupan seseorang untuk dikatakan berhasil atau tidak berhasil, dalam usia muda.  Berikutnya mungkin ada di umur 40 tahun dan 65 tahun.