Tampilkan postingan dengan label Other kind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other kind. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2013

Wakil masyarakat yang mana?

Jujur saya jengah, jengah sekali ketika suatu waktu(dan sering adanya) muncul sekelompok lembaga yang mengatasnamakan masyarakat atau wong cilik atau orang secara umum kemudian secara aneh sekali mengeluarkan statement yang--kembali--meminjam nama masyarakat.

Mereka itu seolah-olah menjadi pahlawan yang datang untuk membuat keadaan semakin mudah, padahal tidak.  Saya juga tidak mengerti apa maksud dari semua ini.  Ketika ada suatu kasus publik mencuat, mereka datang dan berkoar.  Berbuat seolah suara mereka benar-benar merupakan manifestai aspirasi masyarakat, berbuat seolah apa yang mereka lakukan adalah benar keinginan masyarakat.  Protes sana-sini dan membuat keributan, memancing orang lain untuk berbuat apa yang sebenarnya tidak mereka mengerti.  Saya tidak mengerti juga, mereka ini asalnya darimana?, memang kapan rakyat memilih mereka untuk mewakili masyarakat?, dan jika benar ada pemilihan, masyarakat mana yang memilih?.

Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia masih sangat rentan dan cenderung latah, sedikit saja sentilan dari sebuah kelompok, akan banyak orang yang terpancing dan itu yang kemudian akan memperkeruh keadaan.  Yang saya sesalkan sekali mungkin adalah penggiringan opini yang saya nilai merupakan upaya oknum tertentu, entah apapun maksudnya, yang jelas firasat saya menyatakan bahwa ini bukanlah hal yang akan baik-baik saja.

Apa kita tidak pernah belajar dari zaman krisis keamanan di tahun 60'an dulu?, masyarakat kita sampai sekarang masih banyak yang belum bisa menilai sesuatu secara obyektif.  Apalagi Media yang mulanya dipercaya sebagai pemberitaan yang 'apa adanya', sekarang malah menjadi alat untuk propaganda.

Terakhir kasus penyerangan di LP Cebongan Yogyakarta, yang mereka nilai sebagai kasus pelanggaran HAM berat banget.  Kemudian saya tanya; emang ada membunuh orang dinilai sebagai pelanggaran HAM ringan?.  Artinya begini, media seolah menggiring kita pada opini publik baru soal penyerangan tersebut sebagai sesuatu yang tingkat urgensitasnya ribuan kali lebih tinggi dan kemudian menenggelamkan kasus lain yang sebenarnya punya daya kritikan yang sama; masih ingat kan kasus penembakan anggota TNI gara-gara melanggar lalu lintas di Baturaja itu?.

Kasus yang lalu saja masih belum kelar, ini kasus baru dan yang lama sudah hampir tenggelam tanpa kita diberitahu bagaimana kelanjutan kisahnya.  Belum lagi kasus-kasus publik yang mencuat dan menenggelamkan kasus korupsi yang juga punya urgensitas tersendiri.  Tapi kita tentu maklum akan hal ini: media harus punya berita yang fresh untuk dibahas agar rating mereka naik dan stasiunnya tetap ditonton orang banyak.  Lagi pula, kita lebih suka mendengar cerita fantasi ketimbang kenyataan hidup kan?.

Lembaga, atau kelompok atau siapapun yang merasa mereka adalah 'wakil' dari masyarakat, saya lihat berusaha untuk menjadi tim hore di tengah kasus publik itu.  Mereka datang tanpa undangan masyarakat, nanti pun akan pergi tanpa masyarakat tahu jejaknya, seperti jelangkung kan?.  Kita pun akan disuguhkan wacana-wacana aneh dan ganjil, kita dipaksa untuk menelan kebenaran yang mereka senandungkan atas nama masyarakat, atas nama kita.  Itu rasanya aneh sekali, seperti saat anda mengantri tiket kemudian ada calo yang menawarkan jasa.  Siapa yang berani menjamin bahwa calo itu benar-benar membawa tiket yang asli?.

Benar, itu lah yang saya pikirkan sekarang.  Calo-calo kebenaran ada di sekitar kita.  Apakah mereka akan mempermudah kita?, sama sekali tidak.

Kita harus berusaha mendapatkan kebenaran itu tidak dengan memakan hasil olahan orang lain, kita harus memikirkan banyak hal untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat, terutama untuk hal yang sensitif.  Tidak sedikit orang yang masih awam dalam informasi, kewajiban kita adalah berusaha untuk tidak terpancing pada salah satu opini.  Kita tidak cukup hanya dengan mendengar, kita perlu membuktikan.  Dan ketika mereka berkata bahwa mereka adalah wakil masyarakat, wakil masyarakat yang mana?.

Karena ketika keadaan semakin sulit, tentu kita sepakat bahwa sebenarnya yang diinginkan masyarakat bukanlah hal-hal yang ruwet dengan banyak sekali kebisingan disana-sini.  Masyarakat yang sudah susah, jangan dibikin semakin susah.

Kamis, 21 Maret 2013

Sederhana yang Berguna

Dan, setelah seharian berkutat dengan kerjaan akhirnya bisa juga nyuri waktu untuk mampir ke blog dan posting sesuatu yang sedang nyangkut di kepala.  By the way, sudah agak lama juga gak posting ya, setelah ultah kemarin tiba-tiba hasrat menggebu untuk posting muncul kembali.

Nah, jadi begini.  Kita tahu bahwa menginginkan segala sesuatu adalah sifat alamiah manusia, dan itu sah-sah saja asal caranya baik dan benar.  Bahkan itulah justru yang membuat dunia ini hidup, karena ada hasrat, ada passion yang secara kompleks dan berkaitan memutar roda kehidupan.  Hasrat-hasrat itulah yang menorehkan warna di muka bumi, yang mampu membangun gedung-gedung setinggi langit, mengeringkan lautan, membuat kita mampu berbicara tanpa harus membuka mulut dan bertatap muka, berbelanja tanpa harus jalan ke pasar, menumbuhkan berbagai tatanan sosial baru beserta polemiknya.

Seseorang pada awalnya 'berkhayal' tentang cara untuk bisa terbang seperti burung.  Kemudian, dengan hasrat yang kuat itu tadi, dimulai lah berbagai cara untuk mempelajari, membuat dan mencoba untuk terbang seperti yang diinginkan.  Sekarang?, kita bisa menempuh perjalanan sangat jauh dengan waktu yang sangat singkat, dengan 'terbang'.  Dan berbagai hal yang pernah HANYA hadir di dalam dunia imajinasi manusia kini sudah mampu keluar dari perbatasannya, menembus dinding-dinding kemustahilan yang sesungguhnya terkekang oleh ketakutan orang untuk lepas dari dirinya sendiri.

Dari hasrat itu tadi seseorang kemudian memperoleh pembenaran terhadap apa yang diinginkannya,--selain cara untuk mewujudkannya.  Itu, pada awalnya tidak benar-benar akan menimbulkan masalah.  Namun ketika kehidupan mulai beranjak kepada keadaan yang lebih kompleks seperti sekarang, hasrat yang keluar dari dalam diri manusia patut pula kita pertanyakan; sudah benarkah?.

***

Seorang wanita 'cantik' di kantor selalu bicara tentang berbagai hal yang sangat menggangu di telinga saya, bukan hanya karena suaranya cempreng, namun apa yang dibahas itu sebenarnya sangat tidak enak untuk dikemukakan, apalagi mengingat orang-orang di sekitarnya.

Bukan hak saya memang untuk mengatur apakah anda ingin itu atau ingin ini dan lain sebagainya.  Seorang wanita yang rupawan, misalnya, boleh saja mematok standar hidup yang dianggapnya sesuai. Boleh, itu sangat boleh.  Bahkan untuk sekedar mengatakan seperti, "kalo aku mah pilih cowok yang minimal bawaannya Honda CRV", atau "cowok yang boleh deket sama aku itu harus pengusaha dan anak orang kaya", itu boleh saja.  Dengan satu catatan; tempatkan dimana semua itu harus dikatakan, dan jangan katakan dimana itu seharusnya tidak perlu dikemukakan.

Mungkin sebagian dari kita(pria), punya angan-angan yang similar soal kendaraan, minimal, itu tidak akan jauh-jauh standarnya, misal jika saya sangat suka dengan Aventador ini;
image by : neversaycool.com

tentu sebagian dari anda juga tidak akan menolak bila dikasih satu biji kan?.

Masalahnya kemudian adalah, saya tiba-tiba punya perasaan tidak enak ketika meninjau ulang selera saya soal yang satu ini.  Jika saya punya mobil ini pun, memang buat apa? apa yang membuat saya ingin sekali memiliki mobil ini?, lalu jawabannya tidak pernah melesat jauh dari : ingin membuktikan--atau pamer?.

Dan juga harga mobil ini tidak murah, bisa buat bikin panti asuhan 4 biji kali.  Selain itu mobil ini pantang lecet, tidak cocok juga kalo dibawa melintasi jalinsum sepanjang Lampung Tengah yang mirip congklak raksasa.  Buat apa bagus tapi useless?.

Atau, kamu menikahi CR-V nya, perusahaannya, bapaknya atau jiwanya?.. *ehm

***


Kita perlu untuk meninjau kembali tujuan hidup.  Kita barangkali perlu menyisihkan waktu barang 5 menit untuk merenung di pojokan gudang kantor, memikirkan darimana kita melangkah, apa saja yang sudah kita lewati, dan ada dimana kita sekarang.  Dan ya, barangkali pula kita akan menemukan bahwa ternyata hidup kita masih abstrak!.  Tujuan kita diciptakan akhirnya tertutupi oleh lembaran-lembaran hasrat yang menumpuk tidak karuan di meja kehidupan kita.  Kita mengejar apa yang seharusnya belum dulu kita kejar, kita meninggalkan apa yang seharusnya kita lakukan sesuai dengan untuk apa kita diciptakan.

Barangkali, kita melihat segala kemewahan itu adalah tujuan sebenarnya.  Tentu, jika anda menaburkan satu rim kertas di atas meja kerja anda, dan menutupi permukaannya dengan kertas tersebut, anda akan melihat permukaan meja atau tumpukan kertas-kertas yang berserakan?.

Barangkali, dengan sedikit usaha untuk merapikan lembaran-lembaran hasrat itu tadi, kita bisa lebih jernih melihat permukaan meja kehidupan yang menunjukan kita sebuah peta tentang apa yang seharusnya kita lakukan.  Bingung?, yuk mari abaikan.


Kesederhanaan sering dipandang sebagai sebuah kekurangan, saya bilang inilah retardasi intelektual yang sesungguhnya.  Saya sendiri kadang masih terpaku pada sebuah anggapan yang menggiring opini tentang kesederhanaan kepada hal-hal yang 'nanggung', 'pas-pasan', atau 'kurang greget'.  Padahal sederhana sangat erat hubungannya dengan kata 'cukup'.

Cukup adalah keadaan dimana kita tidak perlu merasa takut untuk kekurangan atau menjadi terlalu rakus akibat kelebihan.  Segala sesuatu yang cukup itu baik, dan sesuatu yang baik mengarah kepada hal-hal yang benar.  Makan secukupnya, istirahat secukupnya, sms'an secukupnya, dan sebagainya.

Tentu lebih baik saya punya mobil pick-up tapi sering dipakai buat usaha dan menolong orang ketimbang punya supercar tapi hanya buang uang dan pamer.  Tentu lebih baik anda memiliki seseorang yang sederhana tapi mengerti dan tetap mau mencoba mengerti anda sebagai pasangan ketimbang memiliki pasangan orang berlebihan tapi anda selalu tersiksa batin, kecuali anda mau mendramatisir kehidupan anda sendiri. --itu lain cerita, dan, brainless....


Gays, hidup bahagia adalah ketika kita mampu menikmati apa yang kita miliki sekarang.
Bukan memiliki segalanya, karena pun, banyak orang yang memiliki segalanya juga tidak bisa menikmati apa yang mereka miliki.


Kita sering mengabaikan apa yang disebut dengan kesederhanaan, menyia-nyiakan apa yang sudah kita miliki, menyepelekan pemberian sang khaliq, banyak muluk-muluk, banyak useless-nya ketimbang useful-nya.  Kita selalu menjadi konsumen dan gagal berubah menjadi kreator.  Kita selalu digiring oleh hasrat yang acak-acakan kepada tataran terbawah rantai kehidupan manusia; kita hanya mentok menjadi user karena kita sudah berada pada taraf useless.

Manusia menjadi seperti itu lantaran dirinya sudah kehilangan kemampuan untuk menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya, gagal menjadikan dirinya sebagai makhluk paling sempurna.  Karena kesempurnaan sejati timbul dari kesederhanaan, yang berguna bagi orang lain.  Mungkin kita bisa belajar dari rumput yang bergoyang.

Rabu, 09 Januari 2013

MENGAPA MIMPI BEGITU PENTING?



"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit", dan kemudian "tulis mimpimu di atas kertas dan pasang 5cm dari dahimu".
Adagium yang pertama dan selanjutnya kebanyakan dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif, padahal memang keduanya berbeda dan saling melengkapi.  


Mimpi yang akan saya bahas disini bukanlah suatu bunga tidur yang sejatinya tercipta dari alam bawah sadar manusia, tapi mimpi yang sengaja dibuat oleh manusia, secara sadar.  Mimpi yang berarti cita-cita, pengharapan, dan keinginan.  Disebut mimpi karena cita-cita itu begitu kuatnya, bukan lagi sekedar pengharapan yang lewat atau terbang begitu saja, namun karena kuatnya keinginan, hingga sering bermanifestasi dalam bayang-bayang yang nampak dalam kehidupan, sebuah dorongan keinginan yang harus segera diwujudkan, atau, ingin sekali hal itu terwujud.

Kemudian ketika kita berbicara soal mimpi dengan konteks cita-cita, kita akan menemukan banyak sekali cerita-cerita yang dibungkus dalam berbagai bentuk, film-film, novel, kita juga barangkali sering disuguhkan saat seminar pengembangan diri, dan pepatah-pepatah.  Seolah begitu penting nya hal ini selalu ditransfer kepada orang lain dengan berbagai cara pada setiap jamannya, dimana kemudian gagasan itu menyebar dan mempengaruhi setiap orang di dalam lingkup kepentingannya.

Kita mungkin pula tahu dan ada kalanya sering mendengar pertanyaan-pertanyaan legendaris ini, yang berkaitan dengan perencanaan tujuan hidup yang jelas: ada dimana kita sekarang?, akan kemana nanti?, bagaimana cara untuk sampai kesana?..

Pertanyaan pertama bertujuan untuk membangkitkan seseorang ke alam sadarnya, membawanya utuh ke dalam realita dimana  nantinya manusia akan menghabiskan seumur hidup di situ.  Sebelum jauh melakukan apa yang tidak disadarinya, manusia harus mengerti betul tempatnya sekarang, dalam artiannya adalah siapa dirinya, bagaimana keadaannya, mengapa harus ada disitu, dan dalam waktu itulah seseorang harus belajar dasar-dasar tentang dirinya yang sekarang, terutama mengetahui kelemahan-kelemahannya.

Karena pada dasarnya kekuatan terbesar manusia adalah jika seseorang mampu mengetahui dan mengerti kelemahan-kelemahannya, karena pula seseorang tidak akan bisa menghadapi segala sesuatunya, dan pasti akan menemui kejatuhan bilamana belum mengerti tentang kelemahan-kelemahannya dan cara mengatasinya.  Bukankah yang menghancurkan manusia itu umumnya adalah berasal dari dirinya sendiri?.

Pertanyaan kedua adalah fokus dari apa yang hendak dicapai, disitu lah kerangka berfikir tentang tujuan, cita-cita, mimpi, disusun.  Kehidupan adalah sebuah perpindahan yang tidak ter-elakkan, tanpa diketahui sebelumnya pun, kita akan secara otomatis akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari suatu keadaan ke keadaan lainnya, atau minimal dari satu waktu ke waktu lainnya.  Dan itu semua kemudian akan menggilas kita jika kita tidak punya plan yang jelas, kita akan tetap menjadi tua, akan tetap mengalami pergantian keadaan, dan yang pasti akan mati.  Tapi apakah kita akan menjadi tua tanpa mengisi itu dengan sesuatu yang terarah?, apakah kita hidup hanya untuk menunggu kematian saja?, tentu usia atau rentang waktu antara kelahiran dan kematian itu ada sesuatu yang memang sudah dipersiapkan oleh sang Pencipta untuk makhluqnya.

Kita mungkin pernah tahu adagium ini : kehidupan sejatinya adalah tenggat antara huruf B(Born/lahir) dan D(Death/mati), yang ditengah-tengahnya adalah huruf C(Choice/pilihan).  Kita sudah melewati kelahiran dan tumbuh, dan pasti suatu saat kita akan menemui kematian, tidak bisa tidak.  Namun pilihan hidup adalah sesuatu yang lain, bisa saja ada, bisa saja tidak.

Kita bisa memilih untuk mati tanpa menjadi apa-apa saat hidup atau mati dengan meninggalkan sebuah cerita di dalam kehidupan, ya, itulah perjuangan.  Tapi, perjuangan untuk apa?, maka di sinilah fungsi cita-cita, gagasan, mimpi dan pengharapan.  Semuanya yang kemudian saya sebut visi adalah inti dari kehidupan.  Segala pergerakan dan perpindahan itu mengarah kepada suatu tujuan, tergantung apakah tujuan itu disengaja, tidak disengaja, atau sudah ditetapkan-Nya(mati).

Maka pilihan itu bekerja dan sebaik-baiknya pilihan adalah pilihan yang didasari oleh kesadaran kita dalam memandang realita tempat dimana kita berada saat ini, sebuah tujuan : aku sekarang berada disini, selanjutnya akan kemanakah aku?.

Menyusun sebuah skenario kehidupan itu bukan tugas manusia, manusia hanya punya kewajiban untuk memilih dan berdo'a, memilih untuk bermimpi dan berusaha, atau diam menunggu mati.
Tujuan yang ada dalam mimpi itulah kemudian yang membedakan antara saya dan anda, kalian dan mereka, juga antara manusia dan 'sekedar manusia'.

"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit", dan kemudian "tulis mimpimu di atas kertas dan pasang 5cm dari dahimu".

Adagium yang pertama dan selanjutnya kebanyakan dinilai sebagai sesuatu yang kontradiktif, padahal memang keduanya berbeda dan saling melengkapi.  Bermimpi setinggi-tingginya itu penting, kita harus punya standar prestise yang harus diraih, dengan begitu semakin besar dan kuat usaha yang akan kita lakukan.  Tapi begitu sudah dicita-citakan, maka mimpi itu tidak lah boleh lenyap tenggelam didalam bintang-bintang, mimpi itu harus benar-benar bisa diingat, harus benar-benar bisa dilihat dan dilihat setiap waktu, maka kembali seperti di atas : "Disebut mimpi karena cita-cita itu begitu kuatnya, bukan lagi sekedar pengharapan yang lewat atau terbang begitu saja, namun karena kuatnya keinginan, hingga sering bermanifestasi dalam bayang-bayang yang nampak dalam kehidupan, sebuah dorongan keinginan yang harus segera diwujudkan, atau, ingin sekali hal itu terwujud."  Maka, letakkanlah daftar cita-cita yang sudah digantungkan itu sedekat mungkin dengan hatimu, agar motivasi itu terus mewarnai kehidupanmu, jangan kau jauh-jauh dari mimpimu, jangan sampai terlupakan, kalau perlu pasang 5 cm dari dahimu, dengan begitu pertanyaan ketiga akan menjadi jelas jawabannya.

Pertanyaan ketiga adalah buah yang jatuh dari pohon jawaban dari pertanyaan kedua, karena begitu kita fokus pada suatu impian, maka upaya yang kita lakukan akan berjalan mengikuti impian.  Maka sudah dikatakan tadi, impian yang tinggi semestinya menghasilkan upaya yang sebanding pula, ketika anda belum sampai kepada impian tersebut, setidaknya apa yang anda raih mungkin akan lebih dahsyat ketimbang jika anda tidak punya target.

Bagaimana jika pada suatu titik kita merasa tidak mampu untuk terus berjuang menggapai mimpi yang selalu membayang-bayangi kita?, itu wajar, ketakutan pada awalnya adalah wajar, tapi yang utama adalah niat, keyakinan, karena begitu anda yakin akan sesuatu hal, maka keyakinan itu yang akan memilih anda.  Di buku The Alchemist misalnya digambarkan, bahwa alam semesta akan membantu anda ketika keyakinan sudah kuat kuat di dalam diri.  Banyak hal baru yang akan anda alami nantinya dalam meraih sebuah impian, dan akan banyak rintangan pastinya.  Yang jelas:

Mimpi - Usaha = Khayalan
Mimpi + Usaha = Kenyataan

Itulah yang kemudian membedakan antara mimpi, dan 'hanya mimpi'.

Tapi inilah yang kemudian mendasari mengapa mimpi menjadi begitu penting, bukan soal akan berhasil atau gagalkah anda dalam menggapai impian tersebut, tapi prosesnya itu yang akan mengajari anda banyak hal, proses itu yang penting.  Dimana anda akan banyak pelajaran yang anda petik, yang nantinya akan berguna sekali di masa depan, baik untuk anda maupun untuk orang lain.  Karena, "salah bisa diperbaiki, gagal bisa mencoba lagi, tapi menyerah berarti selesai!(@miemie19Falinda )"

Selasa, 08 Januari 2013

The Past, Now and The future : Tulang rusuk, Poligami, dan Gen


Tujuan umum dari pernikahan adalah 'mencetak' generasi manusia yang baru, sementara kualitas(dalam hal ini kecerdasan) sejatinya diturunkan secara genetik(1969, Arthur jensen), yang pada penjelasan lainnya pula dikatakan bahwa tingkat kecerdasan seorang anak mewarisi secara genetis sebagian besar dari ibunya(menurut Dr. Ben Hamel, ahli genetika UMC Nijgemen, Netherland).  Maka mungkin ini pula yang melatarbelakangi pedoman mengapa laki-laki sebaiknya memilih Wanita yang unggul, dalam kualitas diri, terutama kecerdasan emosional, sosial dan spiritual.

Senin, 31 Desember 2012

Hadiah akhir tahun

Tidak terasa, tahun 2012 udah hampir berakhir, sekitar 11 jam lagi kita sudah berada di tahun 2013.  Dan, selama kurang lebih 365 hari ini sudah berapa banyak kemajuan-kemajuan yang sudah dilakukan?.

Sabtu, 22 Desember 2012

22-12-2012, and We are still here.

Sampai saya menulis artikel ini, masih belum terjadi apa-apa seperti yang diisukan dalam beberapa waktu belakangan ini, kecuali pemadaman listrik yang umum kami alami di kampung sini.  Wacana tentang kiamat yang beredar luas di tengah masyarakat memang memprihatinkan, ini mirip-mirip dengan kejadian sekitar 13 tahun yang lalu, pada tahun 1999, sempat juga tersebar isu tentang akhir dunia yang digembar-gemborkan sehingga saya gagal untuk melihat festival gajah

Minggu, 16 Desember 2012

Pilih : Kekasih, atau Teman?

Sore tadi kalo gak salah, saya sempat menyaksikan salah satu tema dalam serial TV yang menarik untuk dibahas.  Apa sih namanya, lola love ya?, eh, lolly Love.  Serial TV ini merupakan kumpulan cerita seputar cinta, dunia remaja.  Saya tertarik membahas tema yang kebetulan dikemas tadi, intinya begini : pilih teman atau kekasih?.


Sebagian dari kita tentu pernah, sedang, dan mungkin akan mengalami situasi ini : dimana saat kekasih kita justru lebih banyak meluangkan waktunya untuk teman-temannya, ketimbang bersama 'kita'.  Klasik, masalah yang sering dikeluhkan oleh sebagian besar orang yang memiliki kekasih(sorry, mblo, artikel yang ini agaknya kurang nyaman untuk anda.)  Permasalahannya, apakah pantas, seseorang melontarkan pertanyaan di atas ketika batas kesabaran sudah 'habis' akibat kekasih terlalu banyak nyuekin dan justru malah semakin asyik dengan kawan-kawannya?.

Sebelum melakukan itu, saya sarankan anda ngaca dulu, serius.  Ngaca dalam artian yang harafiah dan juga introspeksi diri.  Sebab tidak ada asap tanpa didahului api, kan?.  Maksud saya, ketika asap sudah kebul-kebul di tengah-tengah hubungan anda, yang mengakibatkan kegamangan dan kegalauan dalam menjalaninya, cari dahulu sumber, asal-usul, sebab, darimana sih asap yang bikin jalannya bahtera ikatan cinta anda itu batuk-batuk.

Kebanyakan, yang sering melupakan kekasihnya dan asyik dengan teman-temannya adalah dari kaum laki-laki.  Bukan gak beralasan, laki-laki itu solidaritasnya kental, teman adalah asset berharga bagi masa depan yang akan menunjang pergerakannya nanti.  Hidup itu pasti butuh orang lain kok, apalagi kaum laki-laki memiliki kewajiban untuk mampu berkolaborasi di tengah masyarakat nantinya.

Meskipun begitu, ada batas 'wajar' yang harusnya tetap dijaga ketika seorang laki-laki sudah memiliki kekasih apalagi berumah-tangga.  Ini masalah manajemen waktu, harus ada komitmen yang dititik-kan demi menjaga kelangsungan hubungan itu, kalau perlu, dibuat semacam perjanjian tertulis yang khusus diperuntukkan untuk itu dan dibubuhi materai 6000 serta ditandatangani oleh kedua belah pihak, nah lho, intinya harus tegas!.

Tapi, bagi wanita, harus diperhatikan juga mengapa laki-lakinya kerap lebih suka bersama dengan teman-temannya ketimbang menghabiskan waktu bersama anda.  Setiap manusia pasti punya celah bosan, ada fluktuasi yang jika dituangkan dalam bentuk grafik, akan berbentuk seperti cacing kepanasan.  Tugas wanita adalah mencari tahu, letak titik kebosanan laki-laki dan faktor lain berupa pertanyaan seperti : apakah saya sudah cukup ideal untuk bisa menemani dan menghabiskan waktu bersama, misalnya, dengan suami saya?.  Lalu, apakah saya sudah cukup se-penting itu untuk bisa diprioritaskan oleh kekasih saya?.   Dan, sejauh apa?.

Seseorang akan betah dengan keadaan yang diinginkannya, nyaman dengan orang-orang yang mampu meramaikan hatinya.  Teman ngobrol, itulah yang dibutuhkan setiap orang.  Kenapa kekasih anda lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, itu adalah karena dia lebih bisa menyuarakan pikirannya dan bisa saling berkomunikasi sesuai dengan apa yang diinginkannya.  Dia bisa enjoy mendalami momen saat bersama-sama dengan temannya, dengan sedikit sekali tekanan dibandingkan bersama kekasihnya.

Maka, seharusnya kita sebagai kekasih harusnya mampu mendalami minat dan mengerti kebutuhan dirinya, kita harus mampu menjadi teman yang 'nyaman', yang bisa selalu dirindukan dan juga mampu merangsang obrolan-obrolan yang produktif.  Sehingga ketika bersama kekasih, tidak ada istilah garing.  Syukur-syukur jika anda dan sang kekasih memiliki hobi dan/atau minat yang sama, disitulah nanti akan terbangun chemistry, romantisme macam itulah yang mestinya dibangun dalam suatu hubungan.

Saling melengkapi dan mengisi adalah solusi paling jitu untuk mempertahankan hubungan dan meluweskan komunikasi antara anda dan sang kekasih.  Masalah diutamakan atau tidak itu tergantung bagaimana anda mampu memahami orang lain, memenuhi kebutuhannya dan juga cara memperlakukan orang lain.  Otomatis, ketika anda sudah menjadi yang terbaik bagi istri, suami atau kekasih anda, maka anda akan selalu menjadi yang utama dari yang paling utama.

Keterbukaan kemudian menjadi hal yang patut diperhatikan juga, sebab dengan keterbukaan, kita mampu untuk menemukan, apa sih yang harus dan tidak harus, boleh dan tidak boleh, kita lakukan kepada pasangan demi menjaga hubungan baik itu tadi.  Lain soal jika pasangan anda adalah orang yang sangat tertutup, lalu kemudian dia marah-marah karena anda dianggap tidak perhatian kepadanya.  Lah, apa yang mau diperhatikan jika kita tidak tahu apa yang menjadi keinginannya?.

Dalam hubungan, kepekaan itu memang perlu, tapi tidak boleh menebak-nebak, harus ada kejelasan dalam hal apa pun supaya nanti kedepannya akan lancar dan tetap harmonis.  Usaha-usaha yang lain juga terus dilakukan supaya anda bisa menjadi sosok yang ideal yang dianggap 'pantas' untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan sang kekasih, meminimalisir kecenderungan kekasih untuk lebih memilih bersama dengan kawan-kawannya, meski dalam porsi tertentu, kekasih anda wajib untuk menjaga silaturahmi dengan kawan-kawannya.

Tapi apakah semua usaha-usaha itu harus anda sendiri yang menjalaninya, sementara kekasih anda tidak wajib untuk itu?, salah!  Keduanya harus berjalan beriringan, keduanya harus berusaha dan saling mengisi itu tadi, tidak boleh hanya satu pihak yang mati-matian untuk itu sementara yang satunya cuek, itu artinya kekasih anda tidak serius dengan anda.  Untuk permulaan, okelah anda berusaha untuk 'menyadarkan' sang kekasih supaya dia juga mengusahakan sesuatu untuk hubungannya.  Tapi ingat, indikator cinta adalah pengorbanan, dan jika hanya anda yang berkorban, sedangkan kekasih anda tidak, artinya yang mencintai hanya anda, dia tidak, simpel kan?.

Tidak ada sebenarnya, istilah memilih teman atau kekasih, semuanya bisa berjalan beriringan dengan porsi yang disesuaikan serta berbagai pengertian.  Memutuskan salah satunya, atau memaksa seseorang untuk memilih salah satunya, adalah tindakan terdungu yang saya ketahui kecuali jika salah satunya bermuara pada sesuatu yang negatif bagi sang kekasih.

Yang terakhir, anda harus benar-benar mampu menilai pasangan anda, ketika anda ingin berusaha menjadi yang ideal untuknya, apakah dia juga sudah cukup ideal untuk untuk anda?.  Yang jelas, bagaimana pun, cinta itu akan menemukan jalannya.

Selasa, 13 November 2012

Pasti tidak pasti

Sedikit coretan saja kali ini, diawali dengan keisengan saya untuk mengutak-atik hal ini: kepastian.  Khususnya kecenderungan standar ganda yang dilakoni oleh muslim awam-rentan belakangan.  Padahal, bukan kah yang memakai standar ganda hanya elit Amerika saja?.


Senin, 12 November 2012

Pahlawan, apa sih?, penting?

Hampir setiap tahun di bulan november, menjelang ataupun ba'da peringatan hari pahlawan, selalu ada cerita dan wejangan muncul dari segala penjuru tentang kepahlawanan, bak jamur di musim hujan.  Setelah barang dua bulan kemudian, ya sudah, mungkin hanya tinggal wacana saja.

Minggu, 11 November 2012

Hukum, yakin ada?

Sekitar setengah bulan lalu, tepatnya setelah saya update post disini, ada berita bentrok pecah di tanah Lampung.  Benar, kalau tidak salah waktu hari sumpah pemuda.  Mungkin sebagian readers juga sudah lihat di tivi ya, beberapa waktu lalu, belum lama, terjadi lagi aksi anarkis di Lampung, tepatnya di Bekri, Lampung tengah, tepat 30 kilometer dari tempat saya sekarang.

Minggu, 28 Oktober 2012

Terserah apa judulnya

Hari ini, 28 Oktober 2012, untaian kata diketik, polemik negeri tercinta masih melekat di kepala.  Ini hari minggu yang sama dimana sekitar 84 tahun yang lalu, di Bangunan milik koh Liong(Sie Kok Liong) di Jalan Kramat Raya 106, sumpah sakral pemuda dengan cita-cita agung dibacakan di hadapan lebih dari 70 pemuda Indonesia, dengan sebelumnya secara elegan W.R. Soepratman mengalunkan nada-nada lagu Indonesia Raya.

Kamis, 25 Oktober 2012

Selamat Hari raya Idul Adha

Besok(saya menulis ini, kamis, 25 oktober 2012), sebagian besar umat Muslim di Indonesia merayakan Idul Adha, hari raya tradisi Islam terbesar kedua setelah Idul Fitri, atau, yang biasanya disebut dengan lebaran haji karena bertepatan dengan puncak musim ibadah haji.  Di hari itu, akan banyak darah bergelimangan di pelataran masjid-masjid, tukang jagal, dan juga beberapa tempat peternakan sendiri.  Di pagi harinya, banyak orang mungkin sibuk menarik-narik kambingnya yang gemuk menuju masjid, badan pengurus kurban akan sibuk, golok dan pisau akan diasah tajam-tajam, pembantaian ternak yang dibesarkan dengan susah payah akan terjadi, besok, di hari raya kurban.

Selasa, 23 Oktober 2012

Dajjalitas


Hmm, tulisan ini bermula dari kekhawatiran saya tentang kecenderungan muda-mudi muslim kepada kelakuan radikal serta banyak pengaruh pendangkalan akhlaq yang terjadi di sekitar saya.  Sudah lama, lama sekali kisah ini diceritakan oleh Rasulullah saw, tentang datangnya 'sosok' dajjal yang merupakan tanda-tanda akhir zaman.

Rabu, 03 Oktober 2012

Move on...

just move on,..
Susah makan, susah tidur, susah tertawa, susah nyari duit, serba susah semuanya jika seseorang sudah terkena sindrom 'loe-gue-end'.  Rasanya dunia berhenti berputar dan hidup semakin gak enak untuk dijalani, gara-gara hal kecil yang disebut galau.

*hal kecil ndasmu*

Minggu, 30 September 2012

OAM: Tradisi berpikir Hipotesis orang jawa

Pada kali ini, saya berkesempatan untuk berkoar-koar soal budaya Jawa dalam ranah khas pemikirannya.  Setelah beberapa hari ini mencoba menguji taktik white SEO dan black SEO di kedua blog saya yang lainnya, sehingga mungkin perhatian saya terhadap blog ini sedikit terbengkalai.

Jumat, 28 September 2012

Seberapa Independen kah kita?

Pagi tadi, saya tiba-tiba kepikiran dengan sepenggal statement kawan di facebook, soal freedom, kebebasan.  Tersesat dalam pesan iklan salah satu operator selular di tanah air yang terkait soal kebebasan(you-know-who-lah), yang pada dasarnya mengaburkan isi dari liberty(kebebasan) ini sendiri.

Selasa, 25 September 2012

Kehilangan, cara lain untuk belajar menghargai.

Sesuatu yang datang, pada waktunya nanti akan kembali.  Sesuatu yang hadir pun ada saatnya untuk menghilang, bagaimana pun caranya, entah saat kita siap atau tidak, bagaimanapun keadaannya.  Sudah sunatullah, ditetapkan begitu, masalahnya adalah persiapan diri kita untuk menghadapinya.

Kadang kala, kehilangan punya arti mendalam di sisi lain, sebuah pembelajaran yang sangat berkesan.  Sehingga jejak yang timbul akibat kehilangan itu membekas dalam kenangan yang begitu mempengaruhi diri kita kedepan nya, misal soal arti menghargai.

Kebiasaan buruk manusia yang paling sering muncul adalah sikap abai, sebuah reaksi yang muncul akibat rasa bosan terhadap sesuatu yang ada di tangan, sehingga timbul sikap selalu ingin menyia-nyiakan, yang akhirnya cenderung tidak menghargai apa yang dimiliki.  Ini yang kemudian disebut sebagai sikap yang kuffur terhadap nikmat, berawal dari kesombongan diri yang merembes melalui wujud kebosanan.

Saya, atau anda, pasti pun pernah mengalami ini: ketika kita memiliki sesuatu, dan usia atau waktu meliputinya, terselinap rasa bosan di dalam hati, ada rasa kurang puas yang cenderung negatif terhadap apa yang sudah kita miliki.  Masih kurang puas itu manusiawi, tapi jika sudah diiringi oleh sifat negatif seperti rasa tidak menghargai itu tadi, yang intisarinya itu berasal dari kebiasaan memandang rendah, jelas tidak baik.  Ini mencerminkan kurangnya rasa qana'ah di dalam diri kita, padahal sifat kuffur nikmat yang seperti ini mampu menjauhkan makhluq dari sang Khaliq, saya lebih menyukai istilah terhijab.  Kenapa?, banyak orang diberi kemewahan, kelebihan, kecerdasan, tapi sifatnya jauh dari nilai-nilai luhur, jauh dari Tuhan.  Salah satu penyebabnya adalah rusaknya cara pandang, rusaknya cara pandang terhadap apa yang kita miliki akan membunuh nurani kita, menjadikan kita sebagai pribadi yang sombong.

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan kita selalu kurang?, apa yang menyebabkan kita selalu dalam keadaan bosan?, apa yang menyebabkan kita menjadi kuffur nikmat?,:  tidak bersyukur.  Padahal Allah secara berulang ulang kali menyatakan: Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”).

Apa yang sudah kita punya, apa yang kita miliki saat ini, inilah amanat yang Tuhan berikan kepada kita, ini adalah tanggung jawab yang dipikulkan di pundak kita.  Tugas kita adalah merawat, membuatnya jadi lebih baik, menjaganya, menghargainya, kemudian hidup dengan integritas dibawah nikmat Tuhan, itulah cara mensyukuri, cara menghargai apa yang sudah diberi, tidak hanya ucapan syukur yang kemudian hilang ditelan waktu.  Banyak orang suka menyia-nyiakan sesuatu yang dimilikinya, dan ketika titipan itu dicabut, mereka tersiksa, baru menyadari.  Bukankah banyak orang yang sadar tertidur justru setelah ia bangun?.

Mau tidak mau, kehilangan merupakan sebuah cara lain dalam mengajar yang harus kita alami selama masih ada noda kuffur di dalam hati.  Mau tidak mau, kehilangan akan menjadi guru terbaik untuk menggembleng ketidaksadaran kita soal arti menghargai.  Dan, kehilangan secara bersamaan dengan sakitnya, harusnya mampu menginjeksikan sebuah penyelesaian dalam persoalan yang sering kita hadapi ini, sebuah tindakan preventif, pengalaman, soal, menghargai.

Kamis, 13 September 2012

Mohon partisipasinya kawan!

Dear all bloggers and readers, sudah agak lama juga blog ini tidak terisi tulisan, maklum kadang-kadang saja kata-kata itu bersedia dikeluarkan dari dalam kepala, sisanya tetap memilih untuk bersembunyi ketimbang menampakkan diri untuk dibaca.

Meski begitu, saya juga tidak berhenti untuk tetap bersuara, segelintir tulisan yang saya ikut sertakan di aksi semangat fatigon mungkin bisa mengobati betapa rindunya saya untuk menuangkan sesuatu yang mungkin juga patut direnungkan buat orang lain.

Nah, tulisan itu bisa dilihat disini, mohon rate dan komentarnya juga ya, mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi kita semua!.

salam..

Rabu, 05 September 2012

U Comment, I follow.

Beberapa waktu lalu, saya pernah mampir di suatu blog yang berisi tentang SEO.  Pada salah satu artikelnya membahas tentang nofollow-dofollow dalam dunia blogging, terasa asing awalnya bagi saya pribadi.  Kemudian, apa sih maksudnya nofollow-dofollow itu?.

Nofollow atau dofollow sebenarnya berkaitan dengan bagaimana search-engine(Google, Yahoo, dsb) mengindeks statement link di dalam blog terutama di bagian komentar untuk dapat ter-crawl(terbaca-terdeteksi) kedalam database mereka.  Nofollow, adalah keadaan dimana suatu blog mematikan fitur follow, yaitu tidak menyediakan fasilitas backlink terhadap semua komentar yang ada di blog nya, artinya statement yang berisi link pada komentar blog tidak terbaca oleh database search engine.  Sedangkan dofollow adalah kebalikannya, yaitu keadaan suatu blog atau website yang mengijinkan tautan/link pada komentar di halaman mereka dapat terbaca oleh search engine.

Singkatnya, nofollow itu tidak mengijinkan link pada komentar pengunjung blog/website terbaca di search engine, sedangkan dofollow itu mengijinkan link pada komentar pengunjung blog terbaca di search engine.  Dan dofollow adalah tiadanya fitur "nofollow" pada suatu blog/website.

Keduanya tentu punya kerugian dan keuntungan masing-masing.  Misal pada blog yang secara default memiliki fitur nofollow, akan meminimalisir spam yang merajalela.  Sedangkan kerugiannya adalah mungkin traffic blog yang tidak terlalu banyak seperti pada blog-blog yang meniadakan fitur nofollow.

Kemudian pada blog yang mengaktifkan fitur dofollow, keuntungannya mungkin blog ini akan 'ramai' dikunjungi orang-orang karena para blogger terutama lebih senang menitipkan link nya pada blog dengan fitur dofollow, selain komentar bertambah, link yang mereka titipkan pun akan otomatis terindeks pada search engine database.  Kerugiannya, mungkin adalah resiko masuknya spam karena para spammer tentu lebih senang juga menitipkan link nya pada komentar di blog dofollow toh?.  Selain itu, dalam beberapa kasus juga mempengaruhi pagerank dengan resiko pagerank suatu blog atau website yang meniadakan nofollow nanti PR nya menjadi 0/PR0 atau terbanned dari search engine.

Nah, lalu apa hubungannya dengan "U comment I follow"?.  U comment I follow, atau akan kita singkat dengan UCIF ini adalah sebuah gerakan yang bermaksud meniadakan kode nofollow pada blog dengan tujuan sosial, karena akan lebih banyak lagi sobat readers ataupun bloggers yang mampir ke blog anda dengan meninggalkan komentar sambil menitipkan link mereka.

Cara untuk berpartisipasi dalam gerakan UCIF ini gampang saja, pastikan blog anda sudah meniadakan nofollow, apakah masih nofollow atau tidak?, caranya bisa lihat disini.  Jika blog masih dalam keadaan nofollow, tinggal hapus kode nofollow pada blog atau website anda, caranya bisa lihat disini.  Lalu pasang badge UCIF yang bisa anda dapatkan disini.

Dan blog yang ini pun sudah saya tiadakan fitur nofollow-nya, jadi bagi sobat readers dan bloggers yang ingin nitip link di komentar bisa, asal jangan spamming ya, karena akan dimoderasi juga.
Saya bukan seorang penggila traffic, tapi hanya seseorang yang ingin menulis, dan tulisannya terbaca.
U Comment, I follow!.

Happy blogging! \( ^o^)/



Referensi

 http://www.inlineseo.com/blog/2008/03/15/what-is-dofollow-what-is-nofollow-follow-along-and-see/
http://randaclay.com/blog/i-follow/

Sabtu, 01 September 2012

Antara planning, realitas dan Tujuan



Ada yang pernah merencanakan sesuatu, sampai ke detail-detail kecilnya, tapi kemudian yang terjadi gak sesuai dengan tujuan awal?,.... jika ada, maka mari silahkan lanjutkan membaca yaa anak-anak. :) *dilemparin tiang listrik*